Pemerintah Beri Lampu Hijau Lemigas Impor Minyak Mentah, Pertamina Tak Sendirian Lagi

Penulis: Lendra Saputra  •  Jumat, 29 Mei 2026 | 19:03:57 WIB
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menjelaskan Lemigas kini dapat melakukan impor minyak mentah sebagai skema tambahan.

SULAWESI TENGGARA — Kebijakan tersebut tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 26 Tahun 2026. Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung, menegaskan aturan ini tidak menggantikan peran Pertamina, melainkan menjadi skema tambahan dalam pengadaan minyak mentah.

"Ini kita akan mengoptimalkan penggunaan BLU yang ada, di antaranya adalah Lemigas. Jadi pengadaan dari Lemigas. Jadi dari regulasi ini bisa melakukan impor," ujar Yuliot di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (29/5/2026).

Dalam Negeri Jadi Prioritas, KKKS Wajib Jual ke Lokal

Selain membuka keran impor, pemerintah juga mendorong optimalisasi produksi dalam negeri. Salah satunya dengan meminta Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) — baik perusahaan lokal maupun asing — menjual minyak mentahnya ke pasar domestik terlebih dahulu.

Menurut Yuliot, pembelian crude oil dari KKKS akan mengacu pada harga rata-rata minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP). Skema ini dinilai tidak merugikan kontraktor karena harga yang digunakan sama dengan acuan pasar.

"Jadi karena ada keterbatasan suplai itu secara global, jadi kalau ada komitmen ekspor yang dari perusahaan KKKS itu bisa dipasarkan di dalam negeri dan harganya itu sesuai dengan harga ICP," jelasnya.

Impor 150 Juta Barel dari Rusia: Bertahap, Bukan Sekaligus

Dalam kesempatan terpisah, Yuliot mengungkapkan pemerintah telah menyepakati impor 150 juta barel minyak mentah dari Rusia. Rencana ini merupakan tindak lanjut dari kunjungan Presiden Prabowo Subianto dan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia ke Rusia beberapa waktu lalu.

Kebutuhan konsumsi minyak mentah Indonesia mencapai 1,6 juta barel per hari, sementara produksi dalam negeri hanya sekitar 600 ribu barel per hari. Artinya, masih ada kekurangan 1 juta barel yang harus dipenuhi dari luar negeri.

"Sudah disepakati total yang akan kita impor dari Rusia itu kan sekitar 150 juta barel untuk mencukupi kebutuhan kita sampai dengan akhir tahun," kata Yuliot, Jumat (24/4/2026).

Namun, impor sebesar itu tidak bisa dilakukan sekaligus. Keterbatasan fasilitas penyimpanan minyak mentah atau oil storage di dalam negeri menjadi kendala utama. Pemerintah akan mengimpor secara bertahap hingga akhir 2026.

Yuliot menambahkan, minyak dari Rusia tidak seluruhnya akan diserap oleh Pertamina. Sebagian akan didistribusikan ke perusahaan swasta dan sektor industri lain yang membutuhkan, seperti pabrik petrokimia dan kegiatan tambang.

"Kita juga mencari tambahan dari negara-negara lain termasuk yang dari Amerika," ucapnya.

Langkah ini menjadi bagian dari strategi pemerintah menjaga stabilitas energi di tengah tekanan nilai tukar dan ketidakpastian pasar global. Dengan adanya Lemigas sebagai importir alternatif, diharapkan pasokan minyak mentah nasional semakin terjaga.

Reporter: Lendra Saputra
Sumber: liputan6.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top