SULAWESI TENGGARA — Pekan lalu menjadi minggu yang sibuk bagi industri kendaraan otonom. Tesla, Waymo, Uber, Wayve, dan Lucid sama-sama merilis kabar anyar yang langsung mengubah persepsi publik soal siapa yang paling mungkin memenangkan perlombaan robotaxi. Alih-alih menjawab, kabar ini justru membuat peta persaingan kian keruh.
Waymo, anak perusahaan Alphabet, terus memperluas area layanan robotaxi di San Francisco dan Los Angeles. Mereka mengklaim jumlah perjalanan berbayar mingguan naik 30 persen dalam tiga bulan terakhir. Sementara itu, Uber justru tidak membangun armada sendiri. Mereka memperkuat kemitraan dengan perusahaan otonom seperti Wayve dan Motional untuk menyediakan kendaraan tanpa pengemudi di platform mereka.
Pendekatan Uber dinilai lebih ringan secara modal. Mereka tidak perlu memproduksi mobil atau membangun teknologi otonom dari nol. Cukup menyediakan aplikasi dan jaringan pengemudi yang sudah ada.
Tesla kembali menegaskan akan meluncurkan layanan robotaxi pada akhir 2026. Namun, janji ini sudah beberapa kali molor sejak pertama kali disampaikan Elon Musk pada 2019. Pengamat industri menilai Tesla masih menghadapi tantangan regulasi di berbagai negara bagian AS, terutama terkait sertifikasi keselamatan tanpa setir dan pedal.
Berbeda dengan Waymo yang sudah mengantongi izin operasi penuh di California, Tesla belum mengajukan uji coba publik berskala besar di negara bagian tersebut.
Startup asal Inggris, Wayve, mengumumkan pendanaan seri C senilai 1,05 miliar dolar AS atau sekitar Rp 16,8 triliun (kurs Rp 16.000). Dana ini akan digunakan untuk mempercepat sistem pembelajaran mesin yang memungkinkan mobil belajar mengemudi tanpa peta 3D yang detail. Sementara itu, Lucid yang lebih dikenal sebagai pabrikan mobil listrik mewah, justru menjalin kerja sama dengan salah satu operator robotaxi di Timur Tengah.
Langkah Lucid menunjukkan bahwa pemain non-inti pun mulai merambah bisnis ini, meski masih dalam skala terbatas.
Setidaknya ada tiga faktor yang membuat perlombaan ini belum jelas pemenangnya. Pertama, regulasi setiap negara bagian dan negara sangat berbeda. Kedua, biaya pengembangan teknologi otonom masih sangat tinggi, mencapai miliaran dolar. Ketiga, belum ada standar industri yang disepakati, sehingga setiap pemain membangun sistemnya sendiri-sendiri.
Bagi konsumen Indonesia, perkembangan ini mungkin masih terasa jauh. Namun, beberapa perusahaan seperti Waymo dan Uber sudah mulai menjajaki kerja sama dengan mitra di Asia Tenggara. Jika regulasi di Indonesia mulai mengakomodasi kendaraan otonom, bukan tidak mungkin persaingan ini akan merambah pasar lokal dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan.