25 Chef di Sultra Kantongi Sertifikat BNSP Perkuat Program Makan Bergizi

Penulis: Mirza Fachri  •  Sabtu, 09 Mei 2026 | 14:11:53 WIB
chef di Sulawesi Tenggara resmi kantongi sertifikat BNSP setelah pelatihan dan uji kompetensi.

KENDARI — Puluhan juru masak dari berbagai daerah di Sulawesi Tenggara (Sultra) kini memiliki standar kompetensi nasional untuk mengawal program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kepastian ini diperoleh setelah mereka menuntaskan Pelatihan dan Sertifikasi Chef de Partie yang digelar di salah satu hotel di Kota Kendari, Jumat hingga Sabtu (8–9 Mei 2026).

Langkah penguatan kapasitas ini diinisiasi oleh Perkumpulan Pengusaha Kuliner Indonesia (Apkulindo) Sultra yang menggandeng Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) melalui LSP Jasa Boga Nusantara. Fokus utamanya adalah menyelaraskan keahlian teknis para koki dengan standar layanan gizi nasional yang sedang digenjot pemerintah.

Sertifikasi Jadi Syarat Wajib Layanan Gizi di Sulawesi Tenggara

Ketua Apkulindo Sultra, H. Rahman Rahim menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan respons nyata untuk mendukung Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Menurutnya, kepemilikan sertifikat kompetensi bukan lagi sekadar nilai tambah, melainkan kebutuhan administratif dan teknis yang mendasar.

“Sebanyak 25 chef SPPG dari berbagai wilayah di Sultra mengikuti pelatihan dan uji kompetensi ini. Nantinya mereka akan memperoleh sertifikat resmi dari LSP dan gelar non-akademik dari BNSP berupa Certified Chef de Partie (CCDP),” ujar Rahman, Sabtu (9/5/2026).

Rahman menegaskan bahwa sertifikasi ini menjadi langkah krusial untuk memastikan layanan gizi di Sultra selaras dengan ketentuan Badan Gizi Nasional (BGN). Tanpa standarisasi yang jelas, kualitas asupan yang didistribusikan kepada masyarakat dikhawatirkan tidak mencapai target kesehatan yang diinginkan.

Uji Kompetensi Ketat: Dari Teori hingga Aksi di Dapur

Proses sertifikasi berlangsung dalam dua tahap intensif. Pada hari pertama, seluruh peserta wajib mendalami materi teori serta menyelesaikan dokumen asesmen mandiri. Tahapan ini bertujuan memetakan sejauh mana pemahaman koki terhadap prosedur kerja standar di industri kuliner.

Memasuki hari kedua, pengujian bergeser ke area dapur hotel. Dengan atribut lengkap mulai dari apron hingga penutup kepala, para koki diuji kemampuannya dalam mengolah menu di bawah pengawasan ketat asesor profesional. Pihak LSP Jasa Boga Nusantara menekankan bahwa penilaian mencakup aspek pengetahuan, keterampilan teknis memasak, hingga kedisiplinan higienitas.

Bagaimana Dampaknya bagi Program Makan Bergizi Gratis?

Standardisasi ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem kuliner yang lebih profesional di Sultra. Rahman Rahim memproyeksikan bahwa ke depan, seluruh tenaga masak yang terlibat dalam SPPG wajib memiliki sertifikasi sebagai syarat utama dari Badan Gizi Nasional.

“Saya harapkan standarisasi chef SPPG MBG ini benar-benar terwujud. Ke depan, seluruh chef SPPG di Sultra harus memiliki sertifikasi karena ini menjadi syarat dari BGN. Mereka juga diharapkan mampu memasak sesuai standar yang telah ditentukan,” kata Rahman.

Melalui penguatan kompetensi ini, Sulawesi Tenggara kini memiliki barisan tenaga profesional yang siap menjamin kualitas gizi masyarakat secara berkelanjutan. Sertifikasi ini sekaligus menjadi bukti bahwa sektor kuliner lokal mampu bersaing dan beroperasi sesuai standar nasional yang ketat.

Reporter: Mirza Fachri
Sumber: corongsultra.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top