KENDARI — Air yang tak kunjung surut selama empat malam membuat petani di Kelurahan Amohalo, Kecamatan Baruga, pasrah. Sebanyak 25 hektare sawah yang dikelola Kelompok Tani (Poktan) Gersamata terendam banjir dan terancam puso.
Ketua Poktan Gersamata, Suti, mengungkapkan genangan sudah merendam batang padi yang siap panen. "Saya lupa kapan tepatnya (banjir), pokoknya sudah empat malam terendam," katanya saat ditemui di lokasi, Selasa (12/5/2026).
Dari total lahan 25 hektare, Suti sebelumnya menargetkan panen mencapai 7,5 ton per hektare. Namun akibat banjir, ia memprediksi hasil panen berkurang hampir setengahnya. "Mudah-mudahan air cepat turun, supaya yang terendam itu masih bisa kita panen," ujarnya.
Jika air segera surut, sisa panen yang bisa diselamatkan diperkirakan hanya 93 ton. Dengan harga gabah kering panen saat ini, kerugian materiil yang dialami 25 orang anggota kelompok tani itu ditaksir mencapai ratusan juta rupiah.
Dinas Pertanian (Distan) Kota Kendari mencatat luas total sawah yang terendam di Amohalo mencapai 151 hektare. Kepala Distan Kendari, Imran Ismail, membagi data tersebut ke dalam dua kategori.
"Kami bedakan dua kategori, padi tenggelam dan padi terendam tapi buah masih tampak," jelas Imran. Dari total tersebut, 73 hektare dinyatakan tenggelam total, sementara 78 hektare lainnya masih menunjukkan buah meski terendam.
Banjir ini berdampak pada delapan kelompok tani di Amohalo. Sebagian besar area persawahan kini mulai berangsur surut, memberi sedikit harapan bagi petani untuk tetap bisa memanen sisa tanaman yang masih selamat.