SULAWESI TENGGARA — Komandan Pusdikif, Brigadir Jenderal Zaipul Rahman, membantah ledakan terjadi di area latihan prajurit. "Itu terjadi di Kampung Ciparang, bukan di Pusdikif. Di rumah penduduk, bukan di tempatnya Pusdikif," katanya kepada wartawan, Kamis (9/7/2026).
Zaipul menjelaskan bahwa area latihan di Cipatat tidak hanya digunakan oleh TNI, melainkan juga oleh unsur-unsur lembaga lain. Setiap latihan, menurut dia, sudah mengikuti prosedur tetap yang ketat untuk mencegah warga masuk.
Pihak Pusdikif menyebut telah menerapkan sejumlah langkah pengamanan sebelum dan sesudah latihan. Langkah-langkah itu mencakup pemasangan plang larangan masuk hingga koordinasi dengan aparat RT setempat.
"Kita berikan tulisan dilarang masuk daerah latihan, dilarang keras. Kita kasih plang semua itu, plang-plang pengamanan," tegas Zaipul.
Tiga korban tewas adalah Ade (21), Suhri (40), dan Rodiana (40). Berdasarkan keterangan saksi di lokasi, para pemulung itu memang sering memunguti sisa peluru bekas latihan prajurit Pusdikif.
Aktivitas memungut material sisa latihan itu sudah berlangsung lama meski ada larangan resmi dari pihak TNI. Belum diketahui apakah korban sengaja mengumpulkan peluru untuk dijual kembali atau untuk keperluan lain. Insiden ini memunculkan kembali pertanyaan tentang efektivitas pengamanan area latihan militer di kawasan padat penduduk.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Komando Daerah Militer (Kodam) terkait evaluasi prosedur latihan atau rencana santunan bagi keluarga korban. Brigjen Zaipul hanya menegaskan bahwa kejadian itu berada di luar tanggung jawab Pusdikif karena lokasinya di rumah penduduk.