KENDARI — Rentetan insiden kekerasan yang terus berulang di sejumlah tempat hiburan malam (THM) Kota Kendari memicu reaksi keras dari kalangan aktivis. Konsorsium Aktivis Revolusioner Sulawesi Tenggara (KARST) resmi membuka aksi penggalangan dana satire bertajuk "Open Donasi Rp170 Ribu" sebagai bentuk kritik terhadap buruknya sistem keamanan di tempat-tempat tersebut.
Koalisi yang terdiri dari 14 organisasi ini menilai industri hiburan malam di Kendari gagal memberikan rasa aman, perlindungan, maupun jaminan keselamatan bagi masyarakat yang berkunjung. Alih-alih meredam konflik, oknum keamanan di sejumlah THM justru beberapa kali diduga terlibat langsung dalam tindakan kekerasan.
Penanggung Jawab KARST, Ikhram, mengatakan nominal donasi Rp170 ribu merupakan simbol kritik terhadap para pengusaha THM yang dinilai enggan berinvestasi pada peningkatan kualitas personel keamanan. Menurutnya, pemilik usaha hanya menikmati besarnya perputaran bisnis hiburan malam tetapi mengabaikan standar profesionalisme dan sertifikasi bagi tenaga pengamanan.
"Donasi Rp170 ribu dari 14 lembaga di bawah naungan KARST ini adalah satire murni. Kami menggalang koin demi koin sebagai tambahan modal keamanan, karena pemilik THM terkesan tidak memiliki kemauan untuk melatih dan membina security agar mampu mengendalikan situasi tanpa harus ikut melakukan kekerasan," ujar Ikhram.
Ia menambahkan, sangat memalukan jika pengusaha yang memperoleh keuntungan besar justru membisu ketika kekerasan terjadi di lingkungan usahanya. "Security digaji bukan untuk menjadi preman berseragam yang melegitimasi pengeroyokan," tegasnya.
KARST mencatat sejumlah peristiwa yang sempat menjadi sorotan publik, mulai dari dugaan aksi brutal di THM Spazio, konflik fisik di Liquid/Karaoke Lyrics, hingga dugaan kasus penganiayaan bersama di THM Exodus dan Tokyo. Rangkaian peristiwa tersebut dinilai menunjukkan lemahnya pengawasan operasional serta buruknya pembinaan sumber daya manusia di sektor keamanan internal.
Menurut catatan mereka, kondisi ini diperparah oleh sistem pengamanan internal yang tidak berfungsi. Oknum security di sejumlah THM justru diduga beberapa kali menjadi bagian dari tindak kekerasan, bukan pihak yang meredam konflik.
Atas kondisi tersebut, KARST mendesak Pemerintah Kota Kendari bersama Kepolisian untuk mengambil langkah tegas terhadap THM yang berulang kali menjadi lokasi tindak kekerasan. Menurut mereka, apabila pengelola tidak mampu menjamin keselamatan pengunjung dan terus terjadi insiden serupa, maka penutupan operasional secara permanen patut dipertimbangkan.
"Kami akan menyerahkan hasil donasi ini secara simbolis. Kami ingin menunjukkan, apakah tambahan modal Rp170 ribu dari koalisi rakyat ini mampu menyadarkan para pengusaha THM agar membenahi sistem keamanannya, atau justru membuktikan bahwa tempat-tempat hiburan malam yang terus menjadi episentrum kekerasan memang sudah tidak layak lagi beroperasi," pungkas Ikhram.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak pengelola THM yang disebut dalam catatan KARST maupun dari Pemerintah Kota Kendari terkait desakan tersebut.