SULAWESI TENGGARA — Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian bersama Kementerian Luar Negeri dan BKPM menggelar Indonesia–Japan Infrastructure and Transportation Business Forum and Business Matching 2026 sebagai ajang penjajakan awal sebelum forum bisnis utama di Tokyo. Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN Kemenko Perekonomian, Ferry Irawan, menyatakan kerja sama infrastruktur kedua negara bukan sekadar wacana, melainkan sudah menjadi rekam jejak nyata yang menggerakkan perekonomian nasional.
"Berbagai infrastruktur yang saat ini menggerakkan perekonomian Indonesia mulai dari pelabuhan, kawasan industri, tulang punggung logistik, hingga transportasi perkotaan tidak terlepas dari kontribusi teknologi, pembiayaan, dan disiplin rekayasa dari Jepang," ujar Ferry dalam sambutannya di Jakarta, Selasa (4/8).
Direktur Promosi Wilayah Asia Timur, Asia Selatan, Timur Tengah, dan Afrika BKPM, Cahyo Purnomo, mencatat Jepang sebagai salah satu dari empat investor terbesar di Indonesia dengan realisasi investasi sekitar USD 1,89 miliar. Pemerintah menyiapkan sejumlah insentif untuk menarik minat investor Jepang, mencakup tax allowance, pembebasan bea masuk, dan super tax deduction.
Direktur Asia Timur Kementerian Luar Negeri, Arifianto Sofiayanto, menambahkan hubungan ekonomi kedua negara kian erat setelah kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Jepang pada akhir Maret 2026 menghasilkan komitmen investasi baru senilai sekitar USD 23,63 miliar.
Pemerintah memetakan 32 proyek strategis dari 9 BUMN/BUMD yang siap ditawarkan kepada mitra strategis Jepang. Proyek-proyek tersebut tersebar di enam sektor utama:
Ferry Irawan memaparkan data fundamental ekonomi Indonesia pada semester I 2026 yang tumbuh 5,61% dengan inflasi terkendali di level 3,34% year-on-year. Realisasi investasi tercatat melampaui Rp 1.010 triliun, sementara S&P Global Ratings mempertahankan peringkat utang Indonesia di level BBB dengan outlook stabil.
Survei JETRO FY2025 menunjukkan 69,1% perusahaan Jepang di Indonesia memperkirakan akan membukukan laba operasi—angka yang menjadi sinyal positif bagi calon investor baru. Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 8% pada 2029, sehingga investasi produktif dari Jepang dinilai krusial untuk meningkatkan produktivitas, mempercepat transfer teknologi, dan menciptakan lapangan kerja berkualitas.
Forum Networking Lunch yang digelar hari ini dihadiri perwakilan Kedutaan Besar Jepang, perusahaan Jepang yang beroperasi di Indonesia, lembaga pembiayaan, serta Kementerian/Lembaga terkait dan BUMN/BUMD pemilik proyek. Pemerintah berharap proses penjajakan yang dimulai dari forum ini dapat berkembang menjadi kemitraan investasi yang konkret pada forum bisnis di Tokyo.
"Mari kita ubah dialog hari ini menjadi kemitraan, kemitraan menjadi proyek, dan proyek menjadi investasi yang menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan bagi masyarakat kita," pungkas Ferry.