SULAWESI TENGGARA — Janji swasembada energi yang kerap disuarakan pemerintah akhirnya menemukan bukti konkret. Dalam Sidang Tahunan MPR RI 2026 yang digelar di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026), Presiden Prabowo Subianto mengumumkan Indonesia untuk pertama kalinya mampu memenuhi kebutuhan solar secara mandiri.
"Janji swasembada energi sekarang sudah mulai kita wujudkan dengan pertama kali swasembada BBM jenis Solar. Kita berhasil produksi diesel dengan B50 dari kelapa sawit," ujar Prabowo di hadapan para anggota MPR, DPR, dan DPD.
Keberhasilan ini bukan sekadar jargon politik. Dengan berhentinya impor solar, pemerintah memperkirakan ada penghematan devisa yang signifikan. Prabowo merinci angka fantastis yang berhasil diselamatkan dari belanja luar negeri.
"Sehingga mulai tahun ini 1 Juli 2026, kita tidak lagi mengimpor solar dari luar negeri, dan kita berhasil menghemat devisa Rp 170 triliun," tegasnya.
Kebijakan ini otomatis mengerek serapan minyak sawit mentah (CPO) dalam negeri. Permintaan dari sektor energi yang besar diharapkan mampu menjaga stabilitas harga Tandan Buah Segar (TBS) di tingkat petani, sekaligus mengurangi ketergantungan pada pasar ekspor yang fluktuatif.
Dalam kesempatan yang sama, kepala negara juga menegaskan bahwa program-program unggulan lainnya tidak lagi sekadar wacana. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan berbagai proyek hilirisasi disebut sudah beroperasi dan manfaatnya mulai dirasakan langsung oleh masyarakat luas.
"Janji makanan bergizi, bantuan sosial, dan hilirisasi tidak lagi menjadi rencana di atas kertas. Semua sudah berjalan dan manfaat mulai dirasakan rakyat," papar Prabowo.
Meski capaian ini patut disyukuri, Prabowo mengingatkan agar pemerintah dan rakyat tidak berpuas diri. Ia justru memandang hasil ini sebagai pijakan untuk bekerja lebih keras lagi di masa depan.
"Sekali lagi ini bukan alasan kita untuk puas diri. Ini rangsangan untuk kita kerja keras lagi. Kemerdekaan bukan apa yang kita proklamasikan. Kemerdekaan adalah apa yang dirasakan rakyat," tutupnya.
Langkah ini menempatkan Indonesia di jajaran negara yang mampu mengelola energi terbarukan secara mandiri, sekaligus memperkuat posisi sawit sebagai komoditas strategis nasional.