SULAWESI TENGGARA — Aplikasi palsu yang menyamar sebagai Google Chrome bertahan sekitar dua minggu di Play Store dengan lebih dari 100.000 unduhan sebelum dihapus Google pada 14 Oktober 2026. Aplikasi ini lahir sebagai game Ball Bounce pada Agustus, lalu berganti nama dan ikon Chrome pada 30 September. Insiden ini menyoroti celah peninjauan Play Store terhadap aplikasi yang meniru produk populer.
Aplikasi yang menyamar sebagai Google Chrome bertahan di Play Store selama sekitar dua minggu. Google menghapusnya pada 14 Oktober 2026 setelah sejumlah pengguna melaporkannya lewat komunitas Reddit. Di dalam aplikasi seberat 42 MB itu tidak ada browser sama sekali.
Play Store adalah toko aplikasi resmi untuk Android. Siapa pun yang memiliki akun developer bisa menerbitkan aplikasi di sana. Hasil pencariannya juga memuat iklan berbayar bertanda "Bersponsor" yang dibeli developer agar tampil di urutan teratas.
Kisah ini bermula dari Hizbartech, developer yang menerbitkan Ball Bounce pada Agustus 2026. Nama paket aplikasi, pengenal teknis yang dipakai Play Store untuk mengenali aplikasi, adalah com.ballbounce.Hizbartech. Nama paket itu tetap sama meski nama tampilan berganti.
Pada 30 September, sebuah update mengganti nama dan ikon dengan milik Chrome. Deskripsi aplikasi juga disalin dari halaman resmi Chrome. Pengguna yang sudah memasang game tersebut mendapati ikon Chrome muncul di ponselnya.
Seorang pengguna melaporkan temuan ini di r/browsers, lalu thread kedua di r/chrome mengajak pengguna lain untuk melaporkannya. Pada 14 Oktober, halaman aplikasi lenyap dari store. Google tidak mengeluarkan pernyataan resmi saat artikel-artikel itu terbit.
Google membiarkan aplikasi itu lolos dalam dua kali peninjauan. Yang pertama saat masih berstatus game, yang kedua saat update menjadi Chrome. Keduanya dengan pengenal internal yang sama.
Penghitung Play Store menampilkan lebih dari 100.000 download untuk aplikasi ini. Angka tersebut menjumlahkan seluruh masa hidup aplikasi, termasuk periode ketika masih berupa game Ball Bounce. Tidak ada yang tahu berapa instalasi yang masuk setelah 30 September.
Sebagai pembanding, Chrome asli melampaui 10 miliar download di Play Store menurut PhoneArena.
Sejauh ini belum ada bukti yang membuktikannya. Pengguna yang memasang aplikasi itu tidak menemukan browser, kode Chromium, tracker, maupun fungsi pencuri data. Aplikasi lebih menyerupai aplikasi kontak atau pesan dengan banyak avatar buatan AI dan balasan yang sudah disiapkan.
Unggahan International Cyber Digest pada 15 Oktober menyebut adanya iklan berbayar di atas Chrome asli. Titik awalnya, menurut Clubic, adalah tangkapan layar yang dibagikan di Reddit, tempat aplikasi tampil sebagai hasil bersponsor di urutan teratas pencarian "Chrome".
PiunikaWeb tidak berhasil mereproduksi temuan itu. Saat mencari "Google Chrome", aplikasi tersebut tidak muncul di antara iklan. Aplikasi baru ditemukan setelah mengetik nama developernya.
Perbedaan ini penting. Hasil bersponsor berarti ada pihak yang membayar Google untuk posisi itu, dan persoalannya menyentuh sistem iklan store. Jika aplikasi muncul di hasil biasa karena namanya, persoalannya hanya sebatas peninjauan halaman aplikasi.
Pengguna yang mendapati aplikasi ini di ponselnya disarankan segera menghapusnya lewat menu pengaturan aplikasi. Setelah itu, periksa izin akses yang pernah diberikan, terutama kontak dan penyimpanan. Ganti juga kata sandi akun penting jika mencurigai ada aktivitas tidak wajar.
Kasus ini relevan bagi pengguna Android di Indonesia yang mengandalkan Play Store sebagai sumber utama aplikasi. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) lewat regulasi perlindungan data pribadi menekankan kewajiban platform untuk menjaga keamanan pengguna, termasuk dari aplikasi tiruan.
Google belum mengumumkan langkah lanjutan untuk memperketat peninjauan aplikasi setelah insiden ini. Pengguna disarankan lebih teliti memeriksa identitas developer sebelum memasang aplikasi yang mengaku sebagai produk resmi perusahaan teknologi besar.