KENDARI — Potensi ekonomi biru Sulawesi Tenggara tersebar di 17 kabupaten dan kota. Untuk memudahkan calon investor membaca peta kekayaan laut daerah itu, pemerintah provinsi membaginya ke dalam empat kawasan pengembangan berdasarkan karakteristik geografis dan sumber daya masing-masing wilayah.
Kawasan pertama meliputi Kolaka, Kolaka Timur, dan Bombana. Kawasan kedua mencakup Konawe Kepulauan, Konawe Selatan, Konawe Utara, Konawe, dan Kota Kendari.
Kawasan ketiga terdiri atas Buton Tengah, Muna, Muna Barat, dan Buton Utara. Adapun kawasan keempat meliputi Wakatobi, Buton Selatan, Buton, dan Kota Baubau.
Pembagian tersebut menjadi kerangka pengembangan potensi maritim dengan mempertimbangkan karakteristik wilayah, ketersediaan infrastruktur, sumber daya alam, dan kebutuhan ekonomi masyarakat pesisir.
Sektor perikanan menjadi komponen utama yang ditawarkan Sultra kepada calon mitra investasi. Berdasarkan data Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Tenggara yang dipaparkan dalam forum, jumlah tangkapan yang diperbolehkan (JTB) di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI) 713 mencapai 697.730 ton per tahun.
JTB di WPPNRI 714 tercatat 731.486 ton per tahun. Angka itu merupakan kuota tangkapan yang diperbolehkan pada masing-masing wilayah pengelolaan, bukan keseluruhan produksi perikanan Sultra.
Data sementara 2025 juga mencatat potensi perikanan tangkap Sultra berupa tuna 16.021 ton, cakalang 19.753 ton, dan tongkol 16.489 ton. Komoditas tersebut berpeluang memenuhi pasar domestik dan ekspor, termasuk Jepang, Belanda, Singapura, Australia, Thailand, dan Amerika Serikat.
Selain perikanan, Sultra memperkenalkan potensi keanekaragaman hayati laut untuk mendukung pengembangan marine biomedicine atau biomedis kelautan. Ekosistem terumbu karang, spons laut, mangrove, dan berbagai biota laut di wilayah pesisir serta kepulauan dinilai berpotensi dikaji lebih lanjut melalui penelitian ilmiah dan inovasi teknologi.
Kepulauan Wakatobi menjadi salah satu kawasan yang menonjol dalam konteks kekayaan ekosistem laut Sultra. Pengembangan biomedis kelautan dapat membuka peluang penelitian terhadap senyawa bioaktif dari organisme laut untuk bidang kesehatan, farmasi, dan bioteknologi.
Pemanfaatan itu memerlukan pembuktian ilmiah, penelitian berkelanjutan, serta tata kelola sumber daya genetik yang bertanggung jawab. Kolaborasi pemerintah, lembaga penelitian, perguruan tinggi, dan pelaku industri menjadi kunci menjembatani potensi keanekaragaman hayati dengan produk bernilai tambah.
Bagi Sultra, tantangannya bukan hanya memperkenalkan kekayaan laut. Pemerintah provinsi juga perlu mendorong pengolahan hasil perikanan, meningkatkan nilai tambah komoditas, serta menarik investasi yang memperluas kesempatan kerja dan memperkuat ekonomi masyarakat pesisir.
Pemanfaatan peluang ekspor menuntut penguatan rantai pasok, standar mutu, ketertelusuran produk, fasilitas penyimpanan berpendingin, serta kepatuhan terhadap persyaratan pasar tujuan. Peningkatan kapasitas pengolahan dapat membuka ruang investasi pada industri fillet ikan, produk laut beku, dan pengemasan.
Potensi yang diperkenalkan mencakup wilayah laut, garis pantai, hutan mangrove, padang lamun, terumbu karang, kawasan rawa, danau, serta sungai. Sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan turut masuk pemetaan potensi ekonomi daerah. Infrastruktur pendukung seperti pelabuhan perikanan dan fasilitasnya menjadi pertimbangan pengembangan sektor kelautan.
Dengan pendekatan berbasis kawasan, Sultra berpeluang menghubungkan sumber daya alam dengan industri pengolahan, infrastruktur logistik, penelitian, dan akses pasar internasional. Kerja sama yang dijajaki melalui forum di Fuzhou berpotensi mendukung pertukaran pengetahuan, pengembangan teknologi, dan penelitian kelautan.
Pemerintah provinsi menekankan perlindungan ekosistem dan keberlanjutan sumber daya laut tetap menjadi perhatian dalam setiap kerja sama yang dibangun. Forum The World Maritime Equipment Conference 2026 menjadi ajang Sultra memperkenalkan potensi maritimnya kepada mitra internasional.