SULAWESI TENGGARA — James Giovansanti bukanlah pengemudi biasa. Pria asal Staten Island ini mengemudikan sebuah mobil pikap yang nyaris menjadi pemandangan sehari-hari di jalanan karena aksinya yang kerap melanggar aturan. Sejak awal 2022, namanya tercatat dalam sistem tilang NYPD sebanyak 547 kali, menjadikannya figur paling sering ditilang di luar jajaran kriminal berat.
Pelanggaran yang dilakukannya tergolong ekstrem. Data internal kepolisian menyebutkan, sebagian besar tilang dikeluarkan karena kecepatan tinggi di zona sekolah dan aksi menerobos lampu merah yang membahayakan pengguna jalan lain. Namun, yang paling menarik perhatian adalah statusnya sebagai anggota NYPD sendiri.
Rekor 547 pelanggaran sejak 2022 berarti rata-rata Giovansanti melanggar hampir setiap dua hari sekali. Lokasi pelanggaran paling dominan adalah kawasan sekolah di Staten Island, di mana batas kecepatan rendah kerap ia abaikan. Tak hanya itu, aksi menerobos lampu merah juga menjadi kebiasaan yang terekam kamera tilang elektronik.
Pihak NYPD akhirnya mengambil langkah tegas dengan menerbitkan larangan resmi bagi Giovansanti untuk mengemudikan mobil patroli dinas. Larangan ini berlaku untuk semua unit kendaraan operasional milik kepolisian, baik yang bertanda maupun tidak bertanda.
Kebijakan pelarangan ini menjadi yang pertama di NYPD dalam satu dekade terakhir. Sebelumnya, pengemudi dengan catatan tilang tinggi hanya dikenakan sanksi administratif ringan. Namun, angka 547 pelanggaran dianggap melampaui batas toleransi internal.
“Ini bukan sekadar soal tilang. Ini soal keselamatan publik dan kredibilitas institusi,” ujar seorang pejabat NYPD yang enggan disebutkan namanya. “Seorang anggota polisi seharusnya menjadi contoh di jalan, bukan justru pelanggar terburuk.”
Giovansanti sendiri belum memberikan pernyataan resmi. Namun, sumber internal menyebutkan bahwa ia masih bertugas di bagian non-operasional. Mobil pikap pribadinya yang kerap melanggar kini menjadi perhatian khusus unit lalu lintas setempat.
Menurut data NYPD, Giovansanti menempati posisi kedua sebagai pengemudi paling sering ditilang di seluruh Kota New York. Posisi pertama masih dipegang oleh seorang sopir taksi komersial dengan 623 pelanggaran. Namun, status Giovansanti sebagai anggota kepolisian membuat kasus ini memiliki bobot berbeda.
Langkah NYPD ini menuai beragam reaksi. Sebagian masyarakat menilai sanksi terlalu ringan, sementara pakar kebijakan publik menganggapnya sebagai sinyal kuat bahwa institusi kepolisian mulai serius menertibkan anggotanya sendiri. “Ini adalah langkah awal yang baik, meski masih perlu diikuti dengan evaluasi sistem pengawasan kendaraan dinas,” kata seorang pengamat transportasi dari Columbia University.