SULAWESI TENGGARA — Ian Poulter resmi mengakhiri kiprahnya di LIV Golf dan menolak bergabung dengan format kompetisi baru LIV 2.0. Keputusan petenis golf asal Inggris itu menambah panjang daftar pemain besar yang hengkang dari turnamen pendanaan Arab Saudi tersebut.
Poulter menyampaikan keputusannya langsung melalui kanal media sosial pribadinya. Ia mengaku sudah mempertimbangkan langkah tersebut secara matang bersama keluarga dan timnya sebelum mengambil keputusan final.
Pria berusia 50 tahun itu bukan nama sembarangan di LIV Golf. Sejak turnamen ini diluncurkan pada 2022, Poulter termasuk deretan bintang yang direkrut dan sempat vokal membela sirkuit tersebut saat mendapat banyak kritik.
Dua anak Poulter, Luke dan Joshua, sedang meniti karier sebagai pegolf profesional. Poulter ingin berada lebih dekat untuk mendampingi proses tersebut, sekaligus mengembangkan kanal YouTube miliknya.
Ia juga menyebut keinginan mengurangi perjalanan internasional dan fokus pada senior golf sebagai pertimbangan utama. "Pada akhirnya, kesempatan menghabiskan lebih banyak waktu di rumah bersama keluarga, mengurangi perjalanan internasional, fokus pada senior golf, dan punya peluang menekuni minat lain adalah hal yang saya rasa tepat di tahap hidup dan karier ini," tulis Poulter.
Dalam pernyataannya, Poulter menegaskan keputusan ini bukan langkah yang mudah. "Saya ingin semua orang mendengarnya langsung dari saya bahwa saya memutuskan untuk tidak melanjutkan sebagai bagian dari LIV 2.0," ujarnya.
Kepergian Poulter terjadi di pekan yang sama dengan mundurnya Louis Oosthuizen, juara The Open 2010. Oosthuizen, yang sebelumnya memimpin tim Southern Guards GC, menyebut keputusan itu sebagai yang terberat dalam kariernya.
Pekan lalu, Jon Rahm juga mencapai kesepakatan pemisahan diri dengan LIV. Juara dua major itu dikabarkan rela melepas bayaran senilai 75 juta poundsterling yang menjadi haknya.
Nama-nama lain seperti Abraham Ancer dan David Puig menyusul keluar. Sergio Garcia, Thomas Pieters, Tom McKibbin, Laurie Canter, dan Adrian Meronk pun disebut kemungkinan besar tidak bertahan.
Di sisi lain, Richard Bland, Cameron Tringale, dan Brendan Steele termasuk sedikit pemain yang sudah berkomitmen pada fase kedua turnamen. Masa depan LIV disebut turut bergantung pada apakah Bryson DeChambeau bertahan, setelah ESPN melaporkan pegolf Amerika itu "tetap berkomitmen" pada liga.
Dana Investasi Publik Arab Saudi (PIF) menarik dukungannya dari LIV pada April lalu. Sebelumnya, PIF telah menyuntik lebih dari 5 miliar dolar AS ke turnamen tersebut.
Tanpa sokongan itu, LIV mengajukan perlindungan kebangkrutan di Amerika Serikat bulan lalu. Liga kini mengamankan pinjaman hingga 300 juta dolar AS dari BC Partners Credit untuk melanjutkan rencana LIV 2.0.
Poulter sendiri mengakui LIV telah "membelah opini publik". Meski begitu, ia menyatakan akan "selamanya bangga" menjadi bagian dari kelompok pendiri turnamen tersebut.
"Perubahan tidak pernah mudah dan jujur saja, golf profesional mengalami banyak perubahan dalam beberapa tahun terakhir," kata Poulter. "Tetapi saya selalu percaya perubahan bisa menciptakan peluang dan pada akhirnya membawa hasil yang positif."
Poulter sebelumnya menjabat kapten bersama tim Majesticks bersama Lee Westwood, rekannya sesama ikon Ryder Cup. Rencana Westwood ke depan masih belum jelas.