SULAWESI TENGGARA — Klub berjuluk I Lariani itu menutup musim dengan rekor impresif: 20 kemenangan, 11 imbang, dan hanya tujuh kekalahan. Lini depan Como juga tajam dengan 65 gol—hanya Inter Milan yang lebih produktif dengan 89 gol. Di Coppa Italia, mereka melaju hingga semifinal sebelum dihentikan Inter yang akhirnya juara.
Keberhasilan ini semakin dramatis karena Como beberapa musim lalu masih bermain di Serie B. Kini, mereka langsung melaju ke kompetisi Eropa tertinggi tanpa harus melewati babak kualifikasi.
Usai pertandingan, Cesc Fabregas mengumpulkan para pemain di tengah lapangan—tradisi yang rutin ia lakukan sepanjang musim. Dalam pidatonya, pelatih asal Spanyol itu mengaku sudah punya firasat sejak sebelum laga melawan Parma.
“Saya sudah bilang sebelum laga melawan Parma, jika kita memenangkan dua pertandingan, kita akan masuk Liga Champions. Saya tidak tahu kenapa saya mengatakannya, saya punya firasat,” ujar Fabregas.
Fabregas memberikan apresiasi penuh kepada seluruh pemain. Menurutnya, kerja keras skuad sepanjang musim menjadi fondasi pencapaian bersejarah ini.
“Ini semua karena kalian. Kami hanya mencoba membantu dan memberikan solusi, tetapi kalian alasan semua ini terasa begitu indah,” kata mantan gelandang Arsenal dan Barcelona itu.
Ia juga menilai kelompok pemain musim ini akan selalu punya tempat spesial dalam karier kepelatihannya. “Saya berterima kasih seumur hidup saya. Ini mungkin kelompok terbaik yang akan pernah saya latih di masa depan,” lanjutnya.
Fabregas menutup pidatonya dengan semangat tinggi. Ia yakin pencapaian Como akan dikenang dalam sejarah klub.
“Saya tidak ragu kalian akan dikenang selamanya. Apa yang kita lakukan tahun depan? Liga Champions!” tegas Fabregas.
Como kini bersiap tampil di panggung terbesar Eropa bersama para elite benua biru. Perjalanan dari Serie B ke Liga Champions dalam waktu singkat menjadi salah satu kisah kebangkitan paling menarik di sepak bola Italia musim ini.