KENDARI — Usulan itu disampaikan Fadli Zon saat kunjungan kerja ke Kendari, Sabtu lalu. Ia menilai penempatan replika di plafon atau dinding ruang depan museum akan memberi kesan mendalam bagi pengunjung. “Ruangan depan Museum Sultra ini bisa menjadi tempat replika lukisan gua purba itu. Ke depan bisa kita diskusikan bersama bagaimana mewujudkannya,” ujar Fadli Zon.
Langkah ini bukan tanpa dasar. Hasil riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang berkolaborasi dengan Griffith University dan Southern Cross University Australia menyebutkan, lukisan cadas di Sulawesi Tenggara berusia sekitar 67.800 tahun. Temuan ini menempatkannya sebagai salah satu lukisan gua purba tertua di dunia.
Menbud menegaskan, data tersebut membuktikan bahwa peradaban di bumi Sultra sudah tua. “Artinya, peradaban di Sultra sudah sangat tua. Ini adalah harta budaya yang penting,” sebutnya. Keberadaan replika ini diharapkan menjadi identitas kuat Museum Sultra di mata internasional.
Fadli Zon menekankan pentingnya transformasi fungsi museum. Menurutnya, museum tidak boleh lagi hanya dianggap sebagai tempat penyimpanan benda bersejarah yang pasif. Museum harus menjadi etalase budaya dan peradaban daerah yang dinamis.
Untuk mencapai target itu, manajemen Museum Sultra didorong melakukan pembenahan menyeluruh. Pembenahan itu mencakup tata pamer, layanan pengunjung, hingga promosi digital. Dengan demikian, segmentasi pengunjung diharapkan meluas—tidak hanya pelajar untuk studi, tetapi juga masyarakat umum serta wisatawan domestik dan mancanegara.
Terkait aspek pembiayaan, Fadli Zon menjelaskan pemerintah pusat memberikan dukungan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) nonfisik untuk pengembangan museum daerah. Namun, untuk pembangunan fisik yang membutuhkan biaya besar, ia mendorong adanya kolaborasi antara pemerintah daerah dan sektor swasta.
Sinergi ini dinilai penting agar beban pembiayaan tidak sepenuhnya bertumpu pada APBN maupun APBD. Langkah ini diharapkan dapat mempercepat perbaikan museum dan taman budaya sebagai pusat kegiatan kebudayaan yang berkelanjutan di Sulawesi Tenggara. (Ant/I-1)