KENDARI — Perum Bulog Sulawesi Tenggara melaporkan bahwa seluruh alokasi beras SPHP untuk tahun 2026 telah tersalurkan seluruhnya dalam waktu kurang dari tujuh bulan. Data yang dihimpun dari Dashboard SPHP 2026 per 15 Juli menunjukkan angka realisasi mencapai 100 persen, posisi tertinggi dibandingkan kanwil Bulog lainnya di Sulawesi.
Erdi Baskoro menjelaskan, daya serap tinggi ini tidak lepas dari selisih harga yang signifikan. Beras SPHP dijual sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah, yakni Rp12.500 per kilogram atau Rp62.500 per kemasan lima kilogram.
“Minat masyarakat terhadap beras SPHP di Sultra sangat tinggi. Artinya, beras SPHP masih sangat dibutuhkan dan menjadi pilihan masyarakat,” ujar Erdi dalam keterangan resmi yang diterima redaksi, Rabu (16/7).
Meski realisasi penyaluran sudah maksimal, Bulog memastikan ketersediaan stok di gudang tetap aman. Hingga pertengahan Juli 2026, stok beras SPHP yang tersimpan di gudang Bulog Sultra tercatat sebanyak 465.185 kilogram dan siap disalurkan sesuai kebutuhan.
Erdi berharap stok tersebut dapat menjaga kelancaran distribusi sehingga masyarakat tetap mudah memperoleh beras murah. “Kami juga ingin mendukung stabilitas harga beras di Sultra,” tambahnya.
Untuk memperluas jangkauan, Bulog menyalurkan beras SPHP melalui berbagai kanal. Mulai dari Gerakan Pangan Murah (GPM), pengecer dan pasar rakyat, Rumah Pangan Kita (RPK), hingga ritel modern dan Koperasi Desa Merah Putih.
Program SPHP sendiri merupakan instrumen pemerintah untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan. Melalui program ini, pemerintah berupaya memastikan masyarakat tetap bisa mengakses beras berkualitas dengan harga terjangkau, sekaligus mengendalikan inflasi pangan di daerah.