KENDARI — Pemerintah Kota Kendari melalui Dinas Perikanan dan Kelautan (DPK) menggelar safari Gerakan Masyarakat Makan Ikan (Gemarikan) dan menyiapkan pasar murah ikan. Langkah ini diambil untuk menekan inflasi sektor perikanan yang belakangan menjadi salah satu penyumbang kenaikan harga di kota tersebut.
Kepala DPK Kendari Makmur mengatakan program ini dilaksanakan bersama Anggota Komisi IV DPR RI Jaelani. Safari Gemarikan berlangsung di empat lokasi, yakni Kelurahan Wua-wua, Anduonohu, Lapulu, dan Padaleu.
Makmur menjelaskan, selain untuk mengendalikan inflasi, program ini bertujuan mengajak masyarakat gemar mengonsumsi ikan sebagai upaya pencegahan stunting. "Ikan itu bisa diolah sebagai produk UMKM seperti bakso, kerupuk," ujarnya di Kendari, Rabu.
Pemkot juga menyiapkan pasar murah ikan yang menyasar wilayah non pesisir. Menurut Makmur, langkah ini ditempuh karena sektor perikanan saat ini menjadi penyumbang terbesar inflasi di Kendari.
Dari lima komoditas ikan yang ditampung di tempat penampungan ikan (TPI), harga ikan kembung mengalami kenaikan dari Rp50 ribu menjadi Rp60 ribu per kilogram pada 28 Juli. Sementara ikan tongkol, ikan layang, ikan bandeng, dan tembang harganya masih tetap.
Makmur menambahkan, kebutuhan komoditas perikanan yang ditampung dari nelayan di Pelabuhan TPI Samudra dan TPI Sodohoa masih cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Untuk jangka panjang, pemkot telah mengajukan pembangunan gudang pendingin ikan atau cold storage ke kementerian kelautan.
"Selama ini ikan itu ada ditampung sama nelayan sendiri, ada juga dari pemkot tapi kapasitasnya kecil 100 ton," kata Makmur. Dengan adanya cold storage, pemerintah bisa mengontrol distribusi produksi ikan ketika nelayan tidak melaut akibat cuaca buruk.
Sementara itu, Asisten 1 Pemkot Kendari Nismawati menyebut sektor perikanan menjadi penyumbang inflasi karena beberapa faktor, termasuk cuaca buruk. Ia merinci kondisi inflasi di Kendari saat ini: inflasi bulan ke bulan (month-to-month) 1,5 persen, inflasi tahun ke tahun (year-to-year) 5,14 persen, dan inflasi tahun kalender (year-to-date) 4,39 persen.
Nismawati menjelaskan, dari 10 komoditas tertinggi penyebab inflasi, angkutan udara menyumbang hampir 1 persen, emas perhiasan 0,51 persen, bahan bakar rumah tangga (gas LPG) 0,38 persen, beras 0,38 persen, bensin, dan ikan hanya 0,15 persen.