SULAWESI TENGGARA — Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan bahwa perombakan manajemen di tubuh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mulai menuai hasil nyata. Dalam Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR-DPD RI Tahun 2026 di Jakarta, Jumat (15/8), Kepala Negara membeberkan total keuntungan BUMN sepanjang 2025 mencapai Rp326 triliun.
Angka tersebut tumbuh 75,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Prabowo menegaskan bahwa perolehan ini merupakan hasil audit yang kredibel dan tanpa rekayasa angka. Sebelumnya, pemerintah melakukan koreksi atas laporan laba sejumlah perusahaan negara pada tahun buku 2024 yang semula dinilai terlalu tinggi. Danantara Dapat Penghargaan, Dividen Bersih Naik 160 Persen
Porsi dividen yang disetorkan ke kas negara memang menjadi perhatian utama. Pada 2024, setelah dikurangi penyertaan modal negara (PMN), kontribusi bersih BUMN hanya tercatat Rp53 triliun. Kini, angka tersebut meroket 160 persen menjadi Rp138 triliun pada 2025.
Atas keberhasilan ini, Prabowo memberikan apresiasi khusus kepada jajaran manajemen dan pimpinan Danantara. Ia bahkan menilai sosok di balik pembenahan BUMN tersebut layak menerima bintang kehormatan negara di tengah perayaan Hari Kemerdekaan.
"Ini membuktikan dengan manajemen yang akal sehat, dengan niat tidak menipu, keberhasilan kita bisa datang sangat cepat," ujar Presiden dalam pidatonya. Target 2026: Setoran Rp200 Triliun Tanpa PMN
Pemerintah optimistis tren positif ini akan berlanjut. Prabowo memperkirakan kontribusi dividen BUMN pada 2026 bakal menembus angka Rp200 triliun. Yang lebih menarik, target tersebut diproyeksikan tercapai tanpa adanya suntikan modal segar dari APBN.
Alokasi laba perusahaan negara kini tidak hanya difokuskan untuk menambal defisit anggaran. Menurut Prabowo, keuntungan tersebut juga menjadi sumber pembiayaan strategis untuk mempercepat hilirisasi sumber daya alam. Langkah ini dinilai penting untuk meningkatkan nilai tambah komoditas di dalam negeri.
"Keuntungan BUMN sekarang digunakan untuk mempercepat upaya hilirisasi kita," tegasnya.
Perbaikan tata kelola yang transparan dinilai menjadi kunci utama di balik lompatan kinerja ini. Dengan manajemen yang sehat, perusahaan pelat merah seperti Pertamina, PLN, dan Bank Mandiri diharapkan mampu terus menjadi mesin pertumbuhan ekonomi nasional yang andal.