QRIS, CN235, dan Sosrobahu: Deretan Teknologi Karya Indonesia yang Mendunia

Penulis: Obi Permana  •  Senin, 17 Agustus 2026 | 13:40:01 WIB
Pesawat CN235 karya PT Dirgantara Indonesia terparkir di apron bandara.

SULAWESI TENGGARA — Persepsi bahwa Indonesia hanyalah pasar bagi produk teknologi asing perlahan terbantahkan oleh sejumlah inovasi lokal yang berhasil menembus pasar global. Dari teknik konstruksi canggih hingga sistem pembayaran digital, karya anak bangsa ini telah beroperasi di banyak negara dan menjadi bagian dari infrastruktur penting di berbagai sektor.

Berikut empat teknologi Indonesia yang diadopsi dunia, dirangkum dari berbagai sumber resmi.

1. Sosrobahu: Teknik Konstruksi yang Merevolusi Proyek Jalan Layang

Teknologi Landasan Putar Bebas Hambatan (LPBH) atau yang lebih dikenal sebagai Sosrobahu adalah inovasi konstruksi karya insinyur Indonesia, Tjorkorda Raka Sukawati. Teknik ini memungkinkan pembangunan pier head atau kepala tiang jalan layang tanpa mengganggu arus lalu lintas di bawahnya secara signifikan.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mencatat, teknologi ini tidak hanya dipakai di dalam negeri. Filipina, Thailand, Malaysia, dan Singapura telah menerapkan metode ini dalam proyek infrastruktur mereka.

Di Filipina, Sosrobahu bahkan digunakan dalam pembangunan salah satu jalan layang terpanjang di negara tersebut. Ini membuktikan teknik yang lahir dari kebutuhan lokal ini mampu menjawab tantangan konstruksi di kawasan perkotaan padat penduduk di Asia Tenggara.

2. CN235: Pesawat Karya Anak Bangsa yang Mengudara di Sembilan Negara

PT Dirgantara Indonesia (PTDI) hingga kini masih memproduksi pesawat CN235 yang telah beroperasi di berbagai negara. Pesawat ini pada awalnya merupakan hasil pengembangan bersama antara Industri Pesawat Terbang Nurtanio (IPTN), cikal bakal PTDI, dengan perusahaan asal Spanyol, CASA, yang kini menjadi bagian dari Airbus Defence and Space.

Kerja sama ini dimulai dengan pembentukan perusahaan patungan bernama Aircraft Technology (Airtech) pada 17 Oktober 1979. Prototipe buatan IPTN yang dinamai "Tetuko" melakukan penerbangan perdananya pada Desember 1983, menyusul prototipe buatan CASA bernama "Elena" yang terbang sebulan sebelumnya. Produksi serial dimulai pada 1986.

Kini, PTDI menjadi satu-satunya produsen CN235. PTDI mencatat varian CN235-220 telah beroperasi di Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand, Korea Selatan, Uni Emirat Arab, Burkina Faso, Pakistan, Senegal, dan Nepal. Pesawat ini digunakan dalam berbagai konfigurasi, mulai dari transportasi militer hingga patroli maritim.

3. InaTEWS: Sistem Peringatan Dini Tsunami yang Menjaga Samudra Hindia

Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS) yang dioperasikan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tidak hanya menjadi tulang punggung mitigasi bencana di dalam negeri. Sistem ini juga berperan vital bagi keamanan negara-negara di kawasan Samudra Hindia.

BMKG menjalankan peran sebagai Tsunami Service Provider (TSP) untuk kawasan tersebut, bersama Australia dan India. Dalam kapasitas ini, BMKG menyediakan informasi peringatan dini tsunami bagi 28 negara sebagai bagian dari kerja sama regional.

Kecepatan menjadi keunggulan utama sistem ini. BMKG menyebut sistemnya mampu merilis parameter gempa dalam waktu 30 hingga 60 detik, dan mengeluarkan peringatan dini tsunami dalam waktu kurang dari tiga menit. Ketepatan dan kecepatan ini menjadikan InaTEWS sebagai salah satu sumber informasi paling andal di kawasan.

4. QRIS: Standar Pembayaran Digital yang Menghubungkan Enam Negara

Quick Response Code Indonesian Standard atau QRIS telah menjadi standar pembayaran digital yang semakin mendunia. Dikembangkan oleh Bank Indonesia bersama industri sistem pembayaran, QRIS hadir untuk menstandardisasi transaksi menggunakan kode QR agar lebih mudah dan universal.

Melalui skema QRIS Antarnegara, wisatawan Indonesia dapat menggunakan aplikasi pembayaran domestik untuk bertransaksi di negara mitra, dan sebaliknya. Bank Indonesia mencatat, konektivitas ini telah terhubung dengan Thailand, Malaysia, Singapura, Jepang, Korea Selatan, dan China.

Sistem ini memungkinkan transaksi lintas negara dilakukan melalui interoperabilitas QR tanpa pengguna harus bergantung pada satu jaringan pembayaran tertentu. Bagi pelaku bisnis dan wisatawan, ini berarti transaksi menjadi lebih efisien tanpa perlu menukar mata uang atau memiliki aplikasi pembayaran lokal.

Keberhasilan keempat teknologi ini menunjukkan bahwa inovasi Indonesia memiliki daya saing global. Dari infrastruktur fisik hingga sistem digital, karya anak bangsa telah menjadi solusi yang diandalkan di berbagai belahan dunia.

Reporter: Obi Permana
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top