Danlanal Kendari M. Sati Lubis Ajak Warga Pesisir Pilah Sampah dari Rumah agar Tak Berakhir di Laut

Penulis: Naufal Aditama  •  Jumat, 21 Agustus 2026 | 15:41:02 WIB
Danlanal Kendari, Kolonel Laut (P) M. Sati Lubis, mengajak warga pesisir memilah sampah dari rumah agar tidak berakhir di laut.

Komandan Pangkalan TNI Angkatan Laut (Danlanal) Kendari, Kolonel Laut (P) M. Sati Lubis, mengajak warga Kota Kendari mengubah kebiasaan mengelola sampah mulai dari lingkungan rumah. Ajakan ini disampaikan di tengah kekhawatiran sampah permukiman yang terus bermuara ke sungai dan mencemari pesisir pantai. M. Sati Lubis menegaskan bahwa menambah armada pengangkut sampah tidak akan menyelesaikan masalah jika kesadaran individu untuk memilah sampah belum terbangun.

KENDARI — Persoalan sampah di Kota Kendari tidak akan tuntas hanya dengan menambah truk pengangkut. Kesadaran warga untuk memilah sampah sejak dari rumah menjadi kunci utama agar limbah tidak terus berakhir di sungai, laut, dan pesisir.

Hal itu disampaikan Komandan Pangkalan TNI Angkatan Laut (Danlanal) Kendari, Kolonel Laut (P) M. Sati Lubis, saat menghadiri kegiatan Wali Kota Kendari Menyapa bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) di halaman Puskesmas Kandai, Kamis (20/8/2026). Kegiatan tersebut menyasar warga Kecamatan Kendari dan Kendari Barat.

Laut Bukan Tempat Pembuangan Akhir

M. Sati Lubis mengingatkan bahwa sampah yang dibuang sembarangan memiliki rantai persoalan panjang. Limbah dari permukiman akan masuk ke saluran air, terbawa arus ke sungai, dan pada akhirnya bermuara ke laut.

“Apapun yang dibuang ke laut pasti larinya ke pantai. Apapun yang dibuang dekat rumah, dibuang ke sungai, larinya juga ke pantai. Jadi pesan saya, janganlah buang sampah ke laut,” tegasnya di hadapan warga.

Menurutnya, masyarakat pesisir tidak boleh lagi menjadikan laut sebagai tempat pembuangan akhir. Kebiasaan ini dinilai menjadi sumber pencemaran yang merusak ekosistem pesisir.

Memilah Sampah Organik hingga B3

Danlanal Kendari meminta warga tidak sekadar membuang sampah pada tempatnya, tetapi mulai memilah berdasarkan jenisnya. Sampah organik, anorganik, bahan berbahaya dan beracun (B3), hingga residu perlu dipisahkan agar lebih mudah ditangani.

Perhatian khusus diberikan pada sampah B3 seperti baterai, oli, dan cat. Jenis limbah ini tidak boleh dicampur dengan sampah rumah tangga biasa karena berpotensi membahayakan lingkungan.

“Yang penting kesadaran dari warga, kesadaran dari kita individu untuk menjaga kebersihan lingkungan,” ujarnya.

Sampah Plastik Bisa Diolah Jadi Bahan Bakar

M. Sati Lubis menilai sampah tidak selamanya harus dipandang sebagai barang tidak berguna. Dengan pengelolaan yang tepat, sebagian limbah masih dapat diolah menjadi sesuatu yang memiliki nilai guna.

Ia mencontohkan program di lingkungan TNI yang mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar. Namun, teknologi pengolahan sampah tetap tidak akan maksimal tanpa perubahan perilaku masyarakat.

Ajakan tersebut seiring Pemkot Kendari memperkenalkan program Lembaga Pelayanan Sampah (LPS) yang dirancang berbasis masyarakat. Program ini diharapkan membuat pengelolaan sampah tidak hanya bertumpu pada pemerintah, tetapi melibatkan warga hingga tingkat lingkungan.

Apresiasi Forum Wali Kota Menyapa

Dalam kesempatan itu, M. Sati Lubis juga memperkenalkan diri sebagai pejabat yang baru sekitar satu bulan mengemban tugas sebagai Danlanal Kendari. Wilayah kerjanya tidak hanya mencakup Kota Kendari, tetapi seluruh Sulawesi Tenggara.

Ia mengapresiasi kegiatan Wali Kota Kendari Menyapa yang dinilai memberikan ruang bagi masyarakat menyampaikan persoalan secara langsung kepada pemerintah.

“Forum ini luar biasa. Langsung interaksi aktif dua arah dari warga kepada wali kota. Itu sangat luar biasa dan merupakan momen yang sangat jarang. Jadi kita apresiasi sekali kegiatan ini,” ujarnya.

Selain kebersihan, ia menyinggung pentingnya peran keluarga dalam membentuk karakter anak dan menciptakan lingkungan sosial yang aman. Pendidikan budi pekerti tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi fondasinya dibangun pertama kali di dalam keluarga.

M. Sati Lubis menutup pesannya dengan pantun: “Berlayar dari Teluk Kendari, jangan lupa membawa bekal buah kenari. Mari Bapak Ibu kita sama-sama memilah sampah, agar Kendari kita menjadi kota yang bersih dan berseri.”

Reporter: Naufal Aditama
Sumber: kongkritpost.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top