KENDARI — Rencana pembangunan tanggul di dua sungai besar yang melintasi Kota Kendari akhirnya memasuki tahap pembebasan lahan. Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Sultra, Andi Syahrir, menyatakan langkah ini merupakan bagian dari upaya serius pemerintah menangani persoalan banjir yang kerap melanda wilayah tersebut.
“Pemprov Sultra akan melakukan pembebasan lahan untuk pembangunan tanggul Sungai Wanggu dan Sungai Lepo-Lepo,” kata Andi Syahrir.
Dari data yang dihimpun, sekitar 30 kepala keluarga yang lahannya masuk dalam rencana pembangunan telah menyatakan dukungannya. Kesiapan warga ini menjadi modal penting agar proses ganti rugi berjalan lancar tanpa hambatan berarti di lapangan.
Tahap awal yang akan dilakukan adalah pengukuran lahan oleh Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP). Bersamaan dengan itu, Pemprov Sultra bersama KJPP akan menganalisis status kepemilikan lahan milik masyarakat untuk memastikan kejelasan administrasi.
Pemerintah provinsi memastikan seluruh biaya kompensasi lahan menjadi tanggungan penuh Pemprov Sultra. Sementara itu, pembangunan fisik tanggul akan dilaksanakan oleh BWS Sulawesi IV Kendari sesuai dengan standar teknis yang berlaku.
Secara teknis, tanggul direncanakan akan dibangun dengan jarak sekitar empat meter dari tepi sungai. Jarak ini diambil untuk memberikan ruang gerak bagi aliran air sekaligus memperkuat struktur pengaman di bantaran.
Setelah proses penilaian oleh KJPP rampung, barulah pemerintah menentukan besaran nilai pembebasan lahan yang akan diberikan kepada warga terdampak. Pemprov Sultra juga bertugas melakukan sosialisasi dan koordinasi intensif dengan masyarakat selama proses ini berlangsung.
Pembangunan tanggul di kedua sungai ini menyasar satu tujuan utama, yakni mengurangi risiko banjir yang selama ini terjadi setiap musim hujan. Dengan adanya infrastruktur pengendali banjir yang lebih baik, diharapkan genangan air yang merendam permukiman warga dapat diminimalisir.
Pemerintah berharap pembangunan tanggul ini dapat memperkuat upaya pengendalian banjir di kawasan Sungai Wanggu dan Lepo-Lepo secara berkelanjutan.