KENDARI — Stasiun Klimatologi Sulawesi Tenggara mendeteksi 117 titik panas yang tersebar di delapan kabupaten hingga Senin (31/8/2026). Sebagian besar titik berada pada kategori tingkat kepercayaan menengah dan tinggi, menandakan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih aktif di lapangan.
Kepala Stasiun Klimatologi Sulawesi Tenggara, Kusairi, S.Si., MM, menyampaikan bahwa potensi kemudahan terbakar di lapisan atas permukaan tanah pada Selasa besok masuk kategori sangat mudah terbakar. Kondisi ini berlaku hampir di seluruh wilayah Sultra, terkecuali sebagian daerah di Kolaka dan Kolaka Utara.
Kabupaten Bombana mencatat jumlah titik panas terbanyak dengan kategori tingkat kepercayaan tinggi. Wilayah Konawe Utara turut terpantau dalam kategori yang sama, mengindikasikan adanya api yang terdeteksi secara kuat oleh satelit.
Untuk kategori tingkat kepercayaan sedang, sebarannya merata di sejumlah kabupaten. Konawe mendominasi dengan 42 titik, disusul Bombana dengan 23 titik, dan Muna dengan 12 titik. Wilayah lainnya seperti Konawe Selatan serta Konawe Utara masing-masing tercatat sembilan titik, sementara Buton Selatan dan Buton Utara masing-masing dua titik.
Selain kategori sedang dan tinggi, BMKG juga memantau titik panas dengan tingkat kepercayaan rendah. Pada kategori ini, tujuh titik terpantau di Bombana, serta masing-masing satu titik di Kolaka Timur, Konawe Selatan, dan Muna Barat.
Kusairi menjelaskan bahwa pemantauan dilakukan menggunakan sensor VIIRS dan MODIS yang dipasang pada satelit polar seperti NOAA20, S-NPP, TERRA, dan AQUA. Sensor tersebut melacak suhu permukaan yang secara anomali lebih tinggi dibandingkan lingkungan sekitarnya.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa titik panas tidak akan terpantau apabila suatu wilayah tertutup lapisan awan tebal atau berada dalam area blank zone.
Temuan ini menjadi peringatan dini bagi pemerintah kabupaten/kota di Sultra untuk meningkatkan kewaspadaan. Potensi karhutla yang sangat mudah terbakar dalam waktu dekat menuntut langkah pencegahan ekstra, terutama di wilayah dengan konsentrasi titik panas tinggi seperti Bombana dan Konawe.
Masyarakat yang beraktivitas di area lahan gambut atau semak belukar diminta untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar. Langkah ini dinilai krusial untuk menekan risiko meluasnya kebakaran yang dapat menimbulkan kabut asap serta mengganggu aktivitas penerbangan dan kesehatan warga.