BUTON — Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) di Kabupaten Buton resmi mendapat penekanan baru. Sekretaris Daerah Buton La Ode Syamsudin meminta semua pihak, mulai OPD, kecamatan, kelurahan, hingga desa, tidak sekadar peduli, tetapi juga rapi mendokumentasikan setiap intervensi yang diberikan kepada anak berisiko stunting.
"Banyak variabel dan indikator berhasil tidaknya pencegahan stunting. Ada faktor kesehatan, infrastruktur pendukung, sanitasi, hingga pola hidup sehat. Karena itu, diperlukan kesamaan persepsi dan kerja bersama antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, serta seluruh pemangku kepentingan," ujar La Ode Syamsudin di sela-sela sosialisasi GENTING yang diselenggarakan Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P2KB) Buton.
Sekda Buton menegaskan bahwa penanganan stunting adalah persoalan bersama, bukan tunggal tanggung jawab Dinas Kesehatan. Banyak faktor penentu yang saling terkait: ketersediaan sanitasi, infrastruktur pendukung, hingga kebiasaan hidup sehat masyarakat. Tanpa kolaborasi, program pencegahan berisiko berjalan timpang.
GENTING, menurut La Ode Syamsudin, menjadi wujud nyata kebersamaan itu. Kepedulian yang diberikan kepada anak-anak berisiko stunting, sekecil apa pun bentuknya, berdampak signifikan bagi tumbuh kembang mereka. Hal itu juga menjadi investasi jangka panjang sumber daya manusia Buton.
"Dengan sentuhan kecil, kita dapat mengubah masa depan mereka. Itu akan selalu mereka ingat, dan dengan cara itulah kita sebenarnya sedang berinvestasi bagi masa depan Kabupaten Buton. Kalau kita ingin menyelamatkan Generasi Emas 2045, kita harus mulai dari sekarang. Menyelamatkan satu anak adalah investasi jangka panjang," tegas La Ode Syamsudin.
Pernyataan itu menggarisbawahi bahwa setiap bantuan yang mengalir kepada anak berisiko stunting bukan sekadar amal sesaat, melainkan fondasi bagi kualitas generasi mendatang. GENTING dirancang sebagai gerakan gotong royong, melibatkan individu, perusahaan, dan lembaga publik untuk menjadi "orang tua asuh" bagi anak-anak yang membutuhkan.
Di luar aspek kepedulian, Sekda Buton menginstruksikan pentingnya pencatatan rapi atas semua bentuk bantuan dan intervensi yang disalurkan. Data yang akurat menjadi dasar evaluasi pemerintah daerah dalam menilai efektivitas program.
"Setelah memberikan bantuan, seluruh intervensi harus dicatat. Ini penting agar seluruh upaya pencegahan stunting terdokumentasi dengan baik dan menjadi bahan evaluasi pemerintah daerah," tambahnya.
Instruksi itu mengindikasikan bahwa GENTING tidak boleh berjalan secara sporadis. Setiap bentuk kontribusi—baik uang, makanan bergizi, maupun layanan kesehatan—harus terekam sehingga dapat diukur dampaknya secara menyeluruh.
Mengakhiri arahannya, La Ode Syamsudin mengajak seluruh jajaran pemerintahan untuk bahu-membahu mengawal GENTING. Ia menekankan bahwa keberhasilan program bergantung pada kesediaan semua pihak bergerak bersama.
"Ini bukan masalah OPD tertentu saja, tetapi masalah kita semua. Kolaborasi memperkuat kita dan membawa menuju hasil yang lebih baik demi mewujudkan SDM Buton yang lebih maju," pungkasnya.
Sosialisasi itu turut dihadiri Ketua TP PKK Kabupaten Buton Ny. Maimuna Moko Syarifudin, Kepala Kejaksaan Negeri Buton Sterry Fendy Andih, Ketua IAD Buton Ny. Lady Sterry A., Sekretaris Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sultra Ariyanto Gamar, jajaran Forkopimda, kepala OPD, camat, lurah, dan kepala desa se-Kabupaten Buton.