SULAWESI TENGGARA — Program prioritas yang digaungkan Presiden Prabowo Subianto itu dirancang untuk menjawab persoalan kota yang selama ini terkesan abai terhadap kebersihan. Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian menekankan bahwa pemerintahan pusat dan daerah harus memiliki pemahaman yang sama mengenai konsep ini, bukan sekadar jargon seremonial.
"Beliau (Presiden) ingin agar kita, semua program, pusat dan daerah, untuk membuat kota menjadi bersih. Artinya pengurangan sampah, baik dari hulu, semenjak di rumah tangga, maupun di hilir," ujar Mendagri di hadapan para kepala daerah.
Tito menguraikan persoalan sampah tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan parsial. Menurutnya, penanganan wajib berjalan beriringan sejak dari sumbernya di tingkat rumah tangga hingga proses akhir di tempat pembuangan akhir.
Salah satu langkah konkret yang didorong pemerintah pusat adalah mengolah sampah menjadi sumber energi baru. Selain itu, konsep 3R yang mencakup reduce, reuse, dan recycle juga diinstruksikan untuk diperkuat lewat kegiatan korve atau kerja bakti yang melibatkan lintas instansi secara rutin.
Tito menjelaskan bahwa negara maju telah beralih pada pemanfaatan videotron sebagai sarana iklan yang lebih tertib. Dengan begitu, tampilan kota tetap rapi tanpa kehilangan fungsi sebagai ruang publik yang layak huni.
"Kalau semua kepala daerah, seluruh gubernur-gubernur, bupati, wali kota semua membuat kebijakan yang sama, BUMN semua membuat kebijakan yang sama, bersihlah sebagian," kata Tito seperti dilansir dari keterangan resmi yang diterima redaksi. Kerja gotong royong seperti ini, lanjut dia, terbukti menjadi instrumen efektif dalam menjaga lingkungan di beberapa instansi yang selama ini konsisten menjalankannya.
Menanggapi gelaran tersebut, Tito menyatakan terbuka terhadap masukan untuk penyempurnaan indikator penilaian. Ia mengungkapkan, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) sempat menyarankan agar kategori pertumbuhan ekonomi daerah turut dimasukkan ke dalam kriteria penilaian tahun-tahun berikutnya.
"Tadi saya barusan diskusi dengan Ibu Wini (Kepala BPS), beliau meminta dimasukkan satu lagi (kategori penilaian) yaitu masalah pertumbuhan ekonomi. Karena pertumbuhan ekonomi daerah juga perlu dan semua pemerintah daerah paham cara untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Biar nanti sama-sama belajar," pungkas Tito.
Dengan adanya kategori baru tersebut, ia berharap seluruh pemda dapat saling mempelajari praktik terbaik dalam mengelola lingkungan urban serta menyeimbangkannya dengan upaya perbaikan ekonomi di wilayah masing-masing.