James Riady Sebut AI, Perumahan, dan Pariwisata Jadi Peluang Pertumbuhan Ekonomi

Penulis: Lendra Saputra  •  Jumat, 11 September 2026 | 20:16:31 WIB
James Riady menyampaikan pandangannya mengenai peluang pertumbuhan ekonomi dalam sebuah acara di Sulawesi Tenggara.

SULAWESI TENGGARA — Menurut James, Indonesia sudah mencatatkan kemajuan di bidang pendidikan, layanan kesehatan, keterampilan, dan produktivitas. Namun, kondisi tersebut masih dihadapkan pada biaya modal (cost of capital) yang tinggi dan ruang fiskal pemerintah yang terbatas.

Ia menilai pembangunan infrastruktur fisik tetap diperlukan meskipun membutuhkan biaya besar dan waktu panjang. Pengembangan sumber daya manusia (SDM) disebutnya sebagai investasi yang tak kalah penting.

"Pengembangan sumber daya manusia (human capital) bahkan lebih penting. Namun seluruh hal itu merupakan investasi jangka panjang," ujar James dalam acara tersebut.

AI dan Teknologi: Indonesia Diminta Ambil Peran di Rantai Nilai

James melihat investasi di sektor energi, pusat data (data center), infrastruktur komputasi, dan aplikasi terus berkembang. Ia menekankan Indonesia perlu mengambil peran dalam rantai nilai AI, bukan sekadar menjadi pengguna teknologi.

"Kita harus berperan aktif dalam seluruh rantai nilai, mulai dari penyediaan energi dan infrastruktur komputasi hingga pengembangan aplikasi dan inovasi," kata dia.

Penguatan ekosistem itu dinilai dapat membuka peluang bagi Indonesia memperoleh nilai tambah dari perkembangan teknologi AI. Sektor ini menjadi salah satu yang paling cepat bergerak di kawasan, seiring pertumbuhan pusat data dan kebutuhan komputasi di Asia Tenggara.

Perumahan: Prioritas Nasional dengan Efek Pengganda

James menambahkan, sektor perumahan telah ditetapkan Presiden Prabowo Subianto sebagai salah satu prioritas nasional. Pembangunan perumahan dinilai memiliki efek pengganda karena melibatkan berbagai sektor.

Mulai dari penciptaan lapangan kerja, industri material bangunan, pembiayaan, infrastruktur, hingga konsumsi rumah tangga. Dengan keterkaitan tersebut, pengembangan perumahan tidak hanya berkaitan dengan penyediaan hunian, tetapi juga berpotensi menggerakkan aktivitas ekonomi di berbagai sektor.

Pariwisata: Tantangan Konversi Aset Jadi Pengalaman

James menilai pariwisata memiliki potensi besar karena Indonesia telah memiliki banyak aset alam dan budaya yang dapat dikembangkan menjadi kegiatan ekonomi. Potensi tersebut antara lain pantai, laut, lokasi menyelam, ombak untuk selancar, gunung berapi, hutan, budaya, kuliner, serta masyarakat yang menjadi bagian dari pengalaman wisata.

Menurut dia, tantangan utama sektor pariwisata bukan semata ketersediaan aset, melainkan bagaimana mengembangkan aksesibilitas dan pengalaman wisata sehingga menciptakan aktivitas ekonomi yang lebih besar.

"Tantangan kita terletak pada konversi. Bagaimana kita mengonversi keindahan alam menjadi aksesibilitas? Aksesibilitas menjadi pengalaman, pengalaman menjadi pembelanjaan (spending), pembelanjaan menjadi investasi, dan investasi menjadi kemakmuran," tutur dia.

Tata Kelola Jadi Fondasi Investasi dan Daya Saing

James juga menilai tata kelola menjadi fondasi penting dalam mendorong investasi dan daya saing. Hal tersebut mencakup aspek hukum pertanahan, ketenagakerjaan, kepailitan, penjaminan hak tanggungan (mortgage), perizinan, hingga kepastian hukum.

"Seluruh isu ini berdampak langsung pada investasi dan daya saing, yang membutuhkan reformasi berkelanjutan. Jika Indonesia ingin mengakselerasi pertumbuhan secara signifikan, kita juga harus mengidentifikasi sektor-sektor yang dapat bergerak lebih cepat," jelas James.

Dari tiga sektor yang ia sebut, AI dan teknologi menjadi yang paling erat kaitannya dengan kebutuhan infrastruktur komputasi dan energi. Sektor perumahan bergantung pada pembiayaan dan kepastian hukum pertanahan, sementara pariwisata menuntut perbaikan aksesibilitas di destinasi unggulan.

Reporter: Lendra Saputra
Sumber: metrotvnews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top