SULAWESI TENGGARA — Pasukan Pertahanan Israel (IDF) merilis bantahan resmi terhadap NAZA, dokumenter whistleblower tentang perang Gaza garapan sutradara peraih Oscar Yuval Abraham dan Rachel Szor. Dalam pernyataan panjangnya, militer Israel menuding film itu menyajikan gambaran "terdistorsi, menyesatkan, dan tidak jujur" soal proses penargetan mereka. Bantahan ini muncul setelah NAZA menang Special Jury Prize di Venice Film Festival dan tayang perdana di Amerika Serikat.
IDF mengakui belum menonton NAZA secara utuh. Mereka menyusun bantahan berdasarkan kesaksian seorang perwakilan yang hadir di penayangan publik, sejumlah laporan terbuka, serta pernyataan publik para pembuat film.
Menurut pernyataan resmi tersebut, tim pembuat NAZA tidak menyerahkan tuduhan mereka kepada IDF untuk diperiksa sebelum publikasi. IDF juga menyebut telah meminta salinan film usai penayangan, tetapi permintaan itu tidak dipenuhi.
Dalam pernyataannya, IDF menyoroti tiga poin utama. Pertama, film dianggap menghilangkan konteks penting untuk memahami perang di Gaza. Kedua, narasi NAZA dinilai mendistorsi realitas lewat penyuntingan wawancara yang manipulatif.
Poin ketiga, dokumenter itu disebut menuduhkan niat jahat kepada IDF tanpa bukti yang memadai. "Film NAZA menyajikan gambaran yang terdistorsi, menyesatkan, dan tidak jujur tentang proses perencanaan target dan penyerangan IDF," bunyi pernyataan tersebut.
IDF menegaskan arahannya melarang penargetan warga sipil. Mereka mengklaim telah mengambil langkah konkret untuk mengurangi korban sipil, hal yang menurut mereka tidak disebutkan dalam film.
NAZA dibangun dari wawancara anonim dengan dua lusin veteran IDF yang bertugas selama perang Gaza. Mereka mengklaim militer Israel secara sengaja dan sistematis menargetkan warga sipil.
Istilah NAZA sendiri merupakan akronim dari ungkapan Ibrani yang berarti "kerusakan sampingan" atau collateral damage. Dalam film, sejumlah narasumber menjawab pertanyaan Abraham soal apakah tindakan IDF di Gaza masuk kategori genosida.
IDF menolak keras tuduhan itu. "Tuduhan 'genosida' adalah keterlaluan dan tidak berdasar, dan Negara Israel telah menolaknya secara kategoris," tulis mereka.
Militer Israel juga menilai pertanyaan soal genosida ditujukan kepada orang-orang yang bukan ahli dan tidak memahami definisi internasional istilah tersebut. Menurut IDF, pilihan itu manipulatif, menyesatkan, dan tidak relevan.
Soal kesaksian seorang narasumber yang menceritakan penembakan warga Palestina saat menuju pusat distribusi bantuan, IDF menyatakan telah melakukan evaluasi operasional. Mereka mengklaim pelajaran dari insiden tersebut sudah diterapkan dan instruksi tambahan telah dikeluarkan.
IDF menuding para narasumber NAZA berbicara di luar pengetahuan dan kompetensi mereka. Kesimpulan luas soal proses penargetan militer Israel, kata mereka, ditarik hanya dari informasi intelijen yang terbatas.
Meski mengakui adanya kematian warga sipil, IDF membantah bahwa pembunuhan non-kombatan dilakukan secara sengaja atau merupakan bagian dari kebijakan militer.
NAZA tayang perdana di kompetisi Venice Film Festival dan membawa pulang Special Jury Prize. Film ini kemudian debut di Amerika Serikat lewat New York Film Festival.
Penayangan di Alice Tully Hall disambut antusias penonton di dalam gedung. Di luar teater, aksi protes kecil namun intens dari kelompok pro-Israel mewarnai acara tersebut.
Yuval Abraham dan Rachel Szor sebelumnya dikenal lewat No Other Land, film yang mengantarkan mereka meraih Oscar. NAZA melanjutkan fokus keduanya pada isu konflik Israel-Palestina dengan pendekatan dokumenter berbasis kesaksian langsung.
Bantahan IDF menambah panjang daftar ketegangan antara institusi militer Israel dan kalangan pembuat film dokumenter. Hingga kini belum ada pernyataan resmi dari pihak pembuat NAZA soal bantahan tersebut.