KENDARI — Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II Maritim Kendari, Heri Purnomo, menyatakan asap yang menyelimuti Sultra tidak hanya bersumber dari kebakaran lahan di daerah itu sendiri. Angin dari arah tenggara hingga selatan membawa asap dari Papua Selatan dan Maluku.
Kondisi itu membuat kepekatan asap di Sultra bergantung pada aktivitas kebakaran lahan di dua wilayah tersebut dan pola pergerakan angin. Jika muncul kebakaran tambahan di sekitar wilayah terdampak, konsentrasi asap bisa naik lebih tajam.
Hasil pemantauan BMKG Sultra menunjukkan kabut asap teramati menyelimuti sebagian besar wilayah sejak dini hari hingga pagi. Jarak pandang di sejumlah titik tercatat menurun hingga kurang dari 5 kilometer.
Memasuki sore hingga malam, kepekatan asap diprakirakan bertambah sehingga jarak pandang berpotensi semakin terbatas. "Pola ini diperkirakan akan berulang untuk beberapa hari ke depan," keterangan resmi BMKG Sultra.
Pada hari yang sama, BMKG mencatat 20 titik panas atau hotspot di Sultra pada pukul 00.00–12.00 Wita. Seluruh titik panas itu memiliki tingkat kepercayaan sedang.
BMKG Sultra memprakirakan kondisi asap kategori sedang berlangsung pada 13–14 Oktober 2026 di 17 kabupaten/kota. Warga di daerah-daerah berikut diminta lebih waspada saat kabut mulai menebal:
BMKG Sultra menyarankan warga memakai masker saat beraktivitas di luar ruangan dan memperbanyak minum air putih. Jendela rumah sebaiknya ditutup saat asap terasa pekat.
Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita gangguan pernapasan diminta membatasi aktivitas di luar ruangan. Pengguna jalan, transportasi laut, dan penerbangan perlu mewaspadai penurunan jarak pandang demi keselamatan.
Warga diimbau memantau informasi cuaca dan peringatan resmi BMKG untuk mengantisipasi perkembangan kabut asap. Kualitas udara kategori sedang dengan PM2.5 15,5–55,4 µg/m³ masih berisiko bagi kelompok sensitif yang beraktivitas lama di luar ruangan.