DLH Sultra Turunkan Tim Mobile Ukur Kualitas Udara di 5 Kabupaten, Kendari Tercatat Level 39

Penulis: Mirza Fachri  •  Jumat, 16 Oktober 2026 | 15:17:01 WIB
Tim DLH Sultra melakukan pemantauan kualitas udara secara bergiliran di lima kabupaten menggunakan satu unit peralatan mobile.

KENDARI — Kepala DLH Sultra La Ode Muhamad Ali Haswandy menyatakan pemantauan lapangan dilakukan dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia. Meski hasil pengukuran masih dalam kategori baik, penurunan kualitas udara menjadi alasan tim turun langsung ke sejumlah daerah.

Langkah tersebut mengikuti arahan Gubernur Sultra. Tujuannya memastikan kondisi udara di lapangan sekaligus mengantisipasi potensi risiko kesehatan bagi masyarakat.

Lima Kabupaten Jadi Sasaran Pemeriksaan Bergiliran

Pemantauan lapangan menyasar wilayah daratan, yakni Kabupaten Bombana, Kolaka, Konawe, Kolaka Timur, dan Konawe Utara. Pemeriksaan dilakukan secara bergiliran karena DLH Sultra hanya memiliki satu unit peralatan mobile di laboratorium.

Keterbatasan alat membuat tim belum bisa memeriksa seluruh kabupaten secara bersamaan.

"Karena alatnya cuma satu yang ada di laboratorium, tim akan bergerak dari Bombana ke Kolaka, kemudian Konawe Utara dan kabupaten lainnya. Pemantauan masih dilaksanakan secara bergiliran," ujar Haswandy, Kamis (15/10/2026).

Kendari Dipantau Lewat AQMS, Radius Jangkauan 5 Kilometer

Selain pemeriksaan langsung, DLH Sultra memantau kualitas udara Kota Kendari melalui alat Air Quality Monitoring System yang ditempatkan di kantor DLH Sultra. Peralatan tersebut berasal dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Berdasarkan pembaruan AQMS pada Kamis (15/10/2026), kualitas udara Kota Kendari tercatat pada level 39. Angka itu masuk kategori baik, dengan cakupan pemantauan hingga radius 5 kilometer dari lokasi alat.

Pemantauan harian di Kendari telah dilakukan sejak 11 Oktober 2026. Meski terdapat peningkatan nilai parameter kualitas udara, hasil pengukuran hingga 15 Oktober masih tergolong baik.

"Memang setiap hari terjadi peningkatan nilai parameter kualitas udara. Namun, sampai hari ini, 15 Oktober, kondisinya masih dalam kategori baik," katanya.

Skala Kategori: 0-50 Baik, di Atas 300 Membahayakan

DLH Sultra memakai skala kategori untuk membaca hasil pengukuran. Nilai 0-50 termasuk baik, 51-100 sedang, 101-200 tidak sehat, 201-300 sangat tidak sehat, sedangkan nilai di atas 300 masuk kategori membahayakan.

Kabid Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Awaludin menjelaskan pengukuran kualitas udara menggunakan sejumlah parameter, termasuk PM2.5. Partikel halus berdiameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil itu dapat masuk ke saluran pernapasan.

Warga Diminta Pakai Masker dan Hindari Bakar Terbuka

Haswandy mengimbau masyarakat tetap waspada, terutama saat beraktivitas di luar ruangan. Warga disarankan menggunakan masker untuk mengurangi paparan partikel polutan.

Ia juga meminta masyarakat tidak melakukan pembakaran terbuka maupun aktivitas lain yang berpotensi memperburuk kualitas udara di Sultra.

"Kalau beraktivitas di luar ruangan, masyarakat sebaiknya menggunakan alat pelindung, dalam hal ini masker. Tetap waspada dan jangan melakukan kegiatan pembakaran atau aktivitas lain yang dapat memperkeruh kondisi udara," tegasnya.

Hanya 5 Pegawai Bersertifikat, DLH Dorong Kabupaten Punya Alat Sendiri

Keterbatasan peralatan dan tenaga menjadi tantangan bagi DLH Sultra untuk menjangkau seluruh daerah secara bersamaan. Saat ini hanya lima pegawai yang memiliki kapasitas dan sertifikasi untuk melaksanakan pemantauan kualitas udara.

Karena itu, Haswandy berharap pemerintah kabupaten dan kota menyediakan alat pemantau kualitas udara secara mandiri. Keberadaan peralatan di setiap daerah dinilai penting agar kondisi udara dapat dipantau berkala tanpa menunggu kedatangan tim provinsi.

"Seharusnya setiap kabupaten dan kota memiliki peralatan pemantau kualitas udara yang ditempatkan di DLH masing-masing, sehingga kondisi udara bisa dipantau secara langsung," jelasnya.

Hasil pengukuran melalui AQMS di Kendari dan pemeriksaan langsung menggunakan alat mobile di sejumlah kabupaten menjadi dasar bagi DLH untuk menentukan langkah antisipasi. Peringatan kepada masyarakat akan disampaikan apabila kualitas udara memburuk.

Reporter: Mirza Fachri
Sumber: lajur.co This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top