SULAWESI TENGGARA — bp Indonesia bersama INPEX memulai tahap persiapan survei seismik laut dalam di tiga wilayah kerja lepas pantai Bali, dengan total panjang lintasan mencapai 3.942 kilometer. Kegiatan ini menandai langkah awal perburuan hidrokarbon di Cekungan Bawang yang selama ini belum tergarap optimal. Jika hasilnya positif, pemboran sumur eksplorasi bisa menyusul dan membuka peluang pasokan gas baru bagi Indonesia.
Sebelum alat survei diturunkan ke laut, SKK Migas bersama kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) dan pemerintah daerah menggelar doa bersama serta acara adat di sejumlah pura dan kawasan pantai Cekungan Bawang, Bali. Rangkaian ini melibatkan pemuka agama setempat dan Gubernur Bali. Tujuannya satu: memohon kelancaran dan keselamatan selama operasi seismik berlangsung.
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menyebut tradisi itu sebagai bentuk penghormatan terhadap kearifan lokal. "Doa bersama dan acara adat ini sebagai kearifan lokal, untuk memohon restu dan ridho kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, pemilik laut dan seisinya alam semesta, agar kegiatan seismik laut dalam berjalan lancar, aman dan selamat," kata Djoko dalam keterangannya, Kamis (24/9).
Survei seismik akan menyasar tiga wilayah kerja di lepas pantai Bali. Di WK Agung-1, survei seismik 3D membentang sekitar 1.800 kilometer. WK Barong menyusul dengan survei 3D sepanjang sekitar 1.857 kilometer. Adapun WK Agung-2 akan disurvei dengan metode seismik 2D sepanjang sekitar 285 kilometer.
Totalnya mencapai 3.942 kilometer lintasan. Angka itu menunjukkan skala operasi yang tidak kecil, terutama karena lokasinya berada di laut dalam yang menuntut peralatan dan kapal khusus. bp Indonesia bertindak sebagai operator, menggandeng INPEX sebagai mitra.
Djoko berharap hasil survei memberi gambaran bawah permukaan yang menjanjikan. "Insya Allah hasil kegiatan seismik mendapatkan data-data subsurface bawah tanah yang bagus dan berpotensi besar untuk selanjutnya dilakukan pemboran eksplorasi," ujarnya.
Data geologi dan geofisika dari survei ini menjadi dasar untuk menentukan tahapan eksplorasi berikutnya. Salah satu opsi yang paling dinanti adalah pemboran sumur eksplorasi, tahap yang benar-benar membuktikan ada atau tidaknya cadangan hidrokarbon di bawah laut.
Bagi Indonesia, eksplorasi laut dalam menjadi salah satu jalan menjaga produksi migas nasional. Lapangan-lapangan tua di Jawa Barat dan Sumatera sudah menua, sementara kebutuhan energi dalam negeri terus tumbuh. Cekungan Bawang selama ini dianggap punya potensi, tetapi belum digarap serius karena tantangan teknis dan biaya besar.
Kehadiran bp dan INPEX memberi sinyal bahwa investor global masih melihat prospek migas Indonesia. Keduanya bukan pemain baru di sektor hulu migas, dan keterlibatan mereka di proyek ini menjadi semacam uji pasar bagi iklim investasi migas Tanah Air.
Survei seismik hanyalah pintu masuk. Setelah data terkumpul, hasilnya harus diinterpretasi untuk memetakan struktur bawah tanah. Dari situ, baru diputuskan apakah pemboran sumur eksplorasi layak dilakukan. Jika sumur eksplorasi menemukan cadangan komersial, tahap pengembangan dan produksi masih menanti, sebuah proses yang biasanya memakan waktu bertahun-tahun.
Artinya, dampak langsung ke pasokan energi nasional belum akan terasa dalam waktu dekat. Namun keberhasilan survei ini menjadi penentu apakah Cekungan Bawang masuk daftar prioritas eksplorasi berikutnya atau justru ditinggalkan.
Bagi warga Bali, kehadiran operasi migas laut dalam juga membawa konsekuensi tersendiri. Selain potensi penerimaan daerah, ada pula kekhawatiran soal dampak lingkungan dan aktivitas nelayan di sekitar perairan. Pelibatan pemuka agama dan pemerintah daerah sejak tahap awal setidaknya menunjukkan upaya meredam gesekan sebelum operasi dimulai.
Yang jelas, perburuan migas di laut dalam Bali resmi bergerak dari wacana ke lapangan. Hasilnya masih tanda tanya, tetapi langkah awal sudah diambil.