KENDARI — Jeritan warga kecil di ibu kota Sulawesi Tenggara ini kian terdengar. Harga gas elpiji 3 kilogram yang merupakan kebutuhan pokok kini menjangkau Rp40 ribu sampai Rp50 ribu per tabung di tingkat pengecer. Kondisi ini langsung menghantam daya beli masyarakat, terutama mereka yang tinggal di kawasan padat mahasiswa.
Salah seorang warga, Mang Kukus, mengaku prihatin dengan situasi ini. Ia menuturkan bahwa kenaikan harga sangat memberatkan, terutama karena stok di pangkalan resmi sulit ditemukan.
“Saya salah satu konsumen beli gas Rp40 ribu di kios-kios. Bahkan ada yang jual sampai Rp50 ribu,” ujarnya kepada pewarta, Kamis (21/05/2026).
Ia menambahkan, kondisi paling parah terjadi di kawasan sekitar kampus UHO Kendari. Banyak mahasiswa yang tinggal di kos-kosan tidak punya pilihan selain membeli dengan harga tinggi demi bisa memasak.
Keluhan serupa disampaikan Mba Koci, warga Kendari lainnya. Ia mengaku semakin kesulitan memenuhi kebutuhan rumah tangga akibat mahalnya LPG subsidi.
“Sekarang susah sekali cari gas murah. Kalau dapat pun harganya sudah mahal sekali. Kita masyarakat kecil ini cuma bisa pasrah karena gas tetap dibutuhkan untuk memasak setiap hari,” keluhnya.
Ia berharap pemerintah segera turun tangan mengendalikan harga dan memastikan distribusi LPG 3 kilogram tepat sasaran. “Jangan sampai terus membebani kami,” ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, pewarta masih berupaya menghubungi pihak Pertamina untuk mendapatkan hak jawab atau klarifikasi terkait kelangkaan dan lonjakan harga di tingkat eceran ini. Belum ada pernyataan resmi mengenai penyebab distribusi tersendat di Kendari.
Fenomena ini bukan kali pertama terjadi. Lonjakan harga gas melon kerap muncul menjelang akhir pekan atau saat pasokan dari agen ke pangkalan mengalami hambatan logistik di wilayah kepulauan seperti Sulawesi Tenggara.
Reporter: Tim Radar Kendari