SULAWESI TENGGARA — Kepastian ini datang langsung dari John Maletis, VP dan GM ChromeOS, dalam wawancara dengan Chrome Unboxed. "Kami selalu tentang memungkinkan teknologi dan kemampuan untuk produktif serta mengakses informasi terlepas dari titik harga Anda. Jadi, seiring waktu, kami akan turun, tetapi perangkat pertama ini benar-benar premium," ujar Maletis. Pernyataan itu mengubah peta persaingan yang selama ini dispekulasikan para analis.
Googlebooks generasi pertama diposisikan sebagai laptop flagship bertenaga Gemini yang berbasis Android. Mereka dirancang untuk bersaing langsung dengan laptop Windows premium dan MacBook. Namun, komentar Maletis menegaskan bahwa segmen atas hanyalah pintu masuk. Target akhirnya tetap sama seperti pendahulunya: menjangkau kantong pelajar dan pengguna kasual.
Jika Googlebooks benar-benar merambah ke kelas harga yang sama dengan Chromebook—yang biasanya berkisar antara 200 hingga 500 dolar AS—maka batas antara kedua lini produk ini akan kabur. Chromebook selama ini sukses justru karena murah, mudah dikelola institusi, dan cukup untuk kebutuhan dasar. Googlebooks menawarkan semua itu plus aplikasi Android dan fitur AI Gemini.
Google memang masih akan meluncurkan Chromebook baru hingga tahun depan dan menjamin pembaruan perangkat lunak jangka panjang untuk perangkat yang sudah beredar. Namun, arah pengembangannya sudah mulai bergeser. Perusahaan mengonfirmasi akan mengizinkan beberapa Chromebook untuk "migrasi" ke pengalaman Googlebooks. Ini bukan sekadar pembaruan fitur, melainkan indikasi bahwa arsitektur ChromeOS perlahan digantikan oleh Android yang lebih kaya ekosistem.
Bagi pengguna Indonesia, pergeseran ini patut dicermati. Chromebook sempat menjadi primadona di program digitalisasi sekolah karena harganya yang rendah. Namun, keterbatasan aplikasi dan ketergantungan pada koneksi internet sering menjadi keluhan. Googlebooks dengan dukungan aplikasi Android native bisa menjadi solusi yang lebih praktis—asalkan harganya nanti benar-benar menyentuh kelas menengah bawah.
Keputusan ini lahir dari realitas pasar. Chromebook memang mendominasi segmen pendidikan AS, tetapi di luar Amerika Serikat, pertumbuhannya stagnan. Android, di sisi lain, memiliki basis pengguna global yang jauh lebih besar. Dengan menyatukan laptop dan ekosistem aplikasi seluler, Google menciptakan produk yang lebih kohesif untuk bersaing dengan Apple Silicon dan Microsoft Copilot+ PC.
Strategi ini juga menghemat biaya pengembangan. Mempertahankan dua sistem operasi (ChromeOS dan Android) untuk perangkat keras yang sama tidak efisien. Dengan Googlebooks, Google cukup fokus pada satu basis kode Android yang dimodifikasi untuk layar besar dan keyboard, lalu menurunkan spesifikasi untuk segmen harga rendah. Ini adalah pendekatan yang mirip dengan apa yang dilakukan Apple dengan iPad—satu sistem, dari versi pro hingga versi entry-level.
FAQ: