SULAWESI TENGGARA — Ferrari Luce, EV perdana pabrikan Maranello, menuai kritik pedas saat debut pekan lalu. Masalahnya bukan semata karena mobil listrik, melainkan karena tampilannya disebut "sangat tidak Ferrari". Penyebabnya: desain tidak dikerjakan oleh divisi internal atau Pininfarina, melainkan oleh Jony Ive—legenda desain Apple yang terkenal lewat iPod, iPhone, dan iMac—bersama rekannya, Marc Newson. Hasilnya, Luce terasa seperti Apple Car yang tak pernah jadi.
Kontroversi itu memantik pertanyaan besar di kalangan penggemar otomotif global: andai perusahaan non-otomotif diberi kesempatan merancang EV sendiri, siapa yang paling mungkin sukses? Bukan cuma soal gadget, karena Xiaomi—perusahaan ponsel asal China—sudah membuktikan diri dengan membuat mobil listrik yang solid. Sony? Mereka mencoba lewat Afeela hasil kolaborasi dengan Honda, dan hasilnya... biasa saja.
Di antara semua kandidat, satu nama muncul paling kuat: Dyson. Ya, perusahaan penyedot debu dan kipas angin asal Inggris itu. Jantung saya hancur karena ini tak akan pernah terjadi, tapi Dyson adalah kandidat ideal yang nyaris sempurna.
Dyson pernah benar-benar mencoba masuk ke industri otomotif. Proyek mobil listriknya sempat berjalan, meski akhirnya kandas. Tapi lihatlah portofolio mereka: produk pembersih, kipas, dan alat rumah tangga Dyson bukan cuma laku keras, tapi juga terkenal karena desainnya yang indah, fungsional, dan presisi tinggi. DNA desain itulah yang membuat Dyson begitu menarik untuk dunia EV.
Jika Dyson beneran membuat mobil listrik, hasilnya akan menjadi sesuatu yang belum pernah ada di pasaran. Bukan sekadar soal tampilan futuristik, tapi pendekatan teknik yang khas: motor listrik tanpa sikat (brushless), efisiensi energi yang digila-gilakan, dan material yang terasa premium namun fungsional.
Yang lebih penting, Dyson akan menjadi salah satu dari sedikit pabrikan Inggris yang—saya yakin—tidak akan ambruk begitu ditinggal sendiri. Kenapa? Karena mereka punya divisi "Suck and Blow" (hisap dan tiup) yang luar biasa sukses sebagai bantalan finansial. Bisnis inti Dyson sangat kuat, sehingga mereka bisa mengambil risiko dan tetap bertahan jika proyek mobil tidak langsung untung.
Sayangnya, setelah proyek EV Dyson dibatalkan beberapa tahun lalu, peluang itu tampaknya tertutup rapat. Tapi setidaknya, kita bisa bermimpi: sebuah hatchback listrik Dyson dengan motor digital yang senyap, filter udara HEPA built-in, dan desain yang bikin mobil Eropa lain malu-maluin.
Selain Dyson, beberapa nama lain juga layak dipertimbangkan. Perusahaan furnitur asal Swedia, IKEA, misalnya—dengan pendekatan modular dan harga terjangkau, EV buatan mereka bisa jadi solusi mobilitas urban yang radikal. Atau perusahaan elektronik Korea, LG, yang sudah memproduksi baterai dan komponen EV untuk banyak pabrikan besar.
Tapi jika harus memilih satu, Dyson tetap juaranya. Mereka punya kombinasi langka: kemampuan desain kelas dunia, rekayasa motor listrik yang sudah teruji, dan stabilitas finansial untuk bermain di liga besar. Sayang, dunia otomotif mungkin tak akan pernah melihat Dyson EV melaju di jalan raya. Tapi setidaknya, kita bisa terus membayangkan.