SULAWESI TENGGARA — Puskas Arena menjadi saksi perjalanan Arsenal yang sudah berubah secara fundamental. Bukan hanya karena trofi Premier League yang sudah diamankan, tapi juga status Arteta yang kini tak terbantahkan sebagai pelatih elite. Sebelum gelar liga, sebagian suporter bahkan memintanya dipecat. Kini ia masuk jajaran pelatih papan atas Eropa.
Sepanjang era Arteta, Arsenal identik dengan kecemasan. Setiap langkah salah selalu jadi referendum atas validitas proyek. Tapi setelah gelar Premier League, tim ini punya kesempatan bermain tanpa rasa takut. "Saya pikir ini pertama kalinya mereka bisa menikmati final tanpa beban eksistensial," tulis analis dalam bahan artikel.
Perubahan ini terasa kontras dengan PSG yang datang sebagai favorit. Klub Prancis itu punya keunggulan di lini depan — disebut seperti tim bersenjata lengkap. Tapi Arsenal punya variabel baru: Arteta yang sudah leveling up.
Bahkan mencapai final Liga Champions sudah mengubah status Arteta. Ia kini setara dengan Max Allegri atau Mauricio Pochettino. Jika menang, namanya akan sejajar dengan Carlo Ancelotti, Zinedine Zidane, Jürgen Klopp, dan Pep Guardiola — deretan pelatih yang selalu dapat pekerjaan di klub top.
Menariknya, Arteta berpotensi menjadi pelatih Inggris pertama yang memenangkan Piala Eropa sejak Joe Fagan pada 1984. Ia punya paspor Inggris dan tinggal di London. Spekulasi tentang masa depannya sebagai kandidat pelatih Timnas Inggris pun mulai menguat.
Ada faktor keberuntungan lain: tim-tim Inggris selalu menang di Puskas Arena yang sudah direnovasi. Empat laga, empat kemenangan, tanpa kebobolan. Tentu, belum ada yang menghadapi "Georgian goal-werewolf" seperti yang dimiliki PSG. Tapi statistik itu tetap jadi omen positif bagi Arsenal.
Kemenangan di final ini akan menjadi hari terbesar dalam sejarah Arsenal. Tapi yang lebih penting: ini adalah pembuktian bahwa proyek Arteta bukan sekadar keberuntungan. Klub kini memiliki aset berharga — pelatih yang jadi rebutan klub-klub besar Eropa, termasuk PSG sendiri. Pertandingan Sabtu ini akan menentukan apakah Arsenal benar-benar siap bergabung dengan elit Eropa, atau hanya sekadar numpang lewat.