SULAWESI TENGGARA — Jakarta — Peringatan itu disampaikan Dony dalam pertemuan tertutup dengan jajaran direksi Bank Mandiri di Jakarta, Rabu (29/7/2026). Ia menilai, di tengah persaingan industri perbankan yang semakin cepat, budaya kerja yang adaptif dan kolaboratif tidak boleh kendor. Yang lebih krusial, manajemen harus memastikan kaderisasi pemimpin masa depan berjalan baik.
"Buat saya, lebih penting ini memastikan generasi-generasi berikutnya di Bank Mandiri ini memiliki kapasitas dan kapabilitas masing-masing. Itu penting sekali, jangan nanti kita terlena angka, kita abuse yang lain," tegas Dony, dikutip dari akun resmi BP BUMN.
Kekhawatiran Dony bukan tanpa alasan. Ia menyoroti kebiasaan korporasi yang kerap memangkas anggaran pelatihan dan beasiswa saat laba sedang tinggi karena dianggap tidak mendesak. Menurutnya, praktik semacam itu justru berbahaya bagi keberlanjutan usaha dalam jangka panjang.
Dony juga meminta Bank Mandiri memperkuat kultur riset dan pengembangan produk. Ia menegaskan, anggaran untuk riset tidak boleh dipandang sebagai beban operasional, melainkan investasi strategis yang akan menentukan daya saing perusahaan di masa depan.
"Kalau perlu biaya training lebih tinggi lagi, research development-nya, product development-nya. Inilah yang membuat sebuah korporasi sustainable," ujarnya.
Pesan ini relevan dengan kondisi industri perbankan yang kini menghadapi tekanan dari bank digital dan perubahan perilaku nasabah. Inovasi produk menjadi pembeda utama, sementara kualitas SDM menentukan seberapa cepat bank beradaptasi dengan kebutuhan pasar.
Kekhawatiran Dony tentang risiko "terlena angka" muncul di saat kinerja Bank Mandiri memang tengah berada di puncak. Pada semester I-2026, bank pelat merah ini membukukan laba bersih konsolidasi Rp 30,4 triliun, melonjak 24,4 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Pertumbuhan itu ditopang penyaluran kredit yang mencapai Rp 1.592 triliun, naik 19,9 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka ini jauh melampaui pertumbuhan kredit industri yang hanya 12,7 persen.
Direktur Utama Bank Mandiri, Riduan, menjelaskan ekspansi kredit dilakukan secara selektif dengan fokus pada sektor produktif. Penyaluran kredit ke ekosistem pemerintah dan BUMN tercatat Rp 489 triliun, tumbuh 41,6 persen yoy. Sementara kredit usaha mikro naik 15,7 persen menjadi Rp 31,3 triliun.
"Ekosistem-ekosistem ini saling melengkapi dan turut menopang penyaluran program prioritas nasional, mulai dari pembiayaan proyek strategis pemerintah, penguatan daya saing pelaku usaha, hingga perluasan akses finansial bagi UMKM dan masyarakat," kata Riduan dalam Public Expose Kuartal II 2026 di Jakarta, Kamis (23/7/2026).
Dengan fundamental keuangan yang kuat, tantangan terbesar Bank Mandiri kini justru berada di internal: menjaga agar pertumbuhan tidak membuat manajemen lengah dalam menyiapkan generasi penerus dan terus berinovasi. Pesan Dony hari ini menjadi pengingat bahwa angka keuangan hanyalah cermin masa lalu, sementara investasi SDM dan riset adalah jaminan masa depan.