Tani Merdeka Kendari Turun ke Lahan di Baruga, Petani Minta Bibit Hingga Irigasi Disiapkan Pemerintah

Penulis: Lendra Saputra  •  Sabtu, 01 Agustus 2026 | 20:42:31 WIB
Pengurus Tani Merdeka Indonesia Kota Kendari meninjau langsung lahan pertanian warga di Kelompok Tani Nanga-Nangka Hijau, Baruga, Kendari.

KENDARI — Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Tani Merdeka Indonesia Kota Kendari kali ini tidak berhenti di ruang diskusi. Pengurus memilih turun ke sawah dan kebun warga di Kawasan Kelompok Tani Nanga-Nangka Hijau, Baruga, untuk menyerap langsung apa yang dikeluhkan petani.

Dari peninjauan itu, teridentifikasi sejumlah komoditas unggulan yang tengah dikembangkan warga, mulai dari durian, nangka, alpukat, porang, hingga tanaman pangan lain. Namun, di balik potensi tersebut, petani menyampaikan persoalan klasik yang belum tuntas: sarana produksi.

Empat Kebutuhan Utama yang Disuarakan Petani Baruga

Ketua DPD Tani Merdeka Indonesia Kota Kendari, Sahuriyanto, merangkum setidaknya empat hal yang paling mendesak bagi petani di kawasan Baruga dan sekitarnya. Permintaan tersebut akan dijadikan bahan program kerja organisasi dalam setahun ke depan.

  • Bantuan bibit tanaman produktif yang berkualitas dan tepat sasaran.
  • Pembangunan sumur bor baru untuk mengatasi keterbatasan air, terutama saat musim kemarau.
  • Pembenahan sistem irigasi yang dinilai belum optimal mengairi lahan.
  • Jaminan ketersediaan pupuk dengan harga yang terjangkau bagi petani.

Jembatan Aspirasi ke Pemerintah Pusat

Sahuriyanto menegaskan bahwa organisasinya tidak akan berhenti pada sekadar mencatat keluhan. Seluruh aspirasi ini akan difasilitasi dan dikawal prosesnya hingga bantuan benar-benar diterima petani.

“DPD Tani Merdeka Kota Kendari hadir untuk menjadi mata, telinga, dan penyambung lidah bagi para petani kepada Bapak Presiden Prabowo Subianto dan pemerintah daerah. Semua aspirasi masyarakat petani di Baruga—mulai dari kebutuhan bibit, sumur bor, irigasi, hingga masalah pupuk—akan kita dampingi, kita fasilitasi usulannya, dan kita kawal sampai bantuan itu benar-benar mendarat di tangan petani,” tegasnya.

Kaitannya dengan Program Makan Bergizi Gratis

Penyerapan hasil panen lokal menjadi salah satu alasan utama mengapa persoalan sarana prasarana ini harus segera dibereskan. Sahuriyanto menyebut, program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah berjalan seharusnya menjadi pasar besar bagi petani Kendari.

“Program Makan Bergizi Gratis ini pasokan utamanya harus berasal dari petani kita sendiri. Buah dan sayur yang dikonsumsi anak-anak kita mestinya dibeli dari hasil panen warga Baruga dan kawasan pertanian Kendari lainnya. Karena itulah aspirasi teknis mereka terkait sarana prasarana harus kita tuntaskan dulu,” tambahnya.

Kendala Verifikasi Data dan Biaya Operasional Sumur Bor

Penyuluh Pertanian Kementerian Pertanian (Kementan) RI wilayah Kota Kendari, Yanis Adsmi, membeberkan realita teknis yang dihadapi di lapangan. Proses verifikasi data Calon Petani Calon Lokasi (CPCL) yang kini berjenjang kerap terkendala pembatasan kuota.

“Kami menyambut baik pengawalan dari Tani Merdeka. Tugas kami sebagai penyuluh adalah memastikan lahan petani benar-benar siap dan ada, sehingga bantuan tidak salah sasaran. Saat ini usulan CPCL untuk kakao, alpukat, durian, hingga ternak kambing sudah terdata dengan baik,” ujar Yanis.

Soal sumur bor, Yanis mengungkap biaya operasional penyedotan air mencapai Rp2 juta per minggu hanya untuk bahan bakar. Aspirasi ini telah direspon dengan pengusulan rehabilitasi dan penambahan sarana sumur bor berbasis listrik bersama Dinas Pertanian pada anggaran mendatang.

Rangkaian Rakerda ini ditutup dengan penyusunan rekomendasi program pendampingan untuk satu tahun ke depan, bertepatan dengan momentum HUT Ke-81 Republik Indonesia.

Reporter: Lendra Saputra
Sumber: radarkendari.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top