SULAWESI TENGGARA — Megawati yang juga Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) itu menyambut langsung delegasi Science for Development Summit 2026. Ia mengaku bangga dan terhormat bisa menjamu para ilmuwan dunia di tengah rangkaian acara yang berlangsung di Menteng, Jakarta Pusat.
"Bagi saya, ilmu pengetahuan dan teknologi bukan sesuatu yang terpisah dari kehidupan politik dan masa depan suatu bangsa," ujar Megawati dalam sambutannya.
Pernyataan itu disampaikan Megawati di hadapan Ramos-Horta yang merupakan peraih Nobel Perdamaian 1996. Kehadiran para ilmuwan peraih Turing Award dalam delegasi tersebut menjadikan pertemuan ini bukan sekadar agenda diplomatik biasa, melainkan perjumpaan antara gagasan kebangsaan dan inovasi global.
Megawati menegaskan komitmennya terhadap pengembangan sains sudah berlangsung lama, jauh sebelum ia menjabat Ketua Dewan Pengarah BRIN. Ia menyebut penguasaan ilmu-ilmu dasar, riset, dan inovasi selalu menjadi perhatiannya sejak memimpin pemerintahan periode 2001-2004.
"Sudah sejak lama, baik selaku Ketua Dewan Pengarah BRIN, maupun sebagai Ketua Umum PDI, saya selalu menegaskan bahwa Indonesia harus bersekutu dengan ilmu pengetahuan dan teknologi," katanya.
Ia menambahkan, "Ketika menjadi Presiden Kelima Republik Indonesia, hal-hal berkaitan pendidikan, penguasaan ilmu-ilmu dasar, riset, dan inovasi selalu saya coba jalankan. Bahkan kebijakan negara pun harus berbasis riset."
Kunjungan Ramos-Horta ke Megawati Institute terjadi di sela-sela Science for Development Summit 2026 yang menghadirkan sejumlah ilmuwan terkemuka dunia. Pertemuan ini menjadi simbol penguatan hubungan bilateral Indonesia-Timor Leste di luar jalur pemerintahan, melibatkan tokoh senior kedua negara.
Megawati tidak hanya berbicara soal kebijakan riset. Ia mengaitkan penguasaan IPTEK dengan semangat nasionalisme, sebuah tema yang relevan bagi dua negara yang memiliki ikatan sejarah panjang. Timor Leste sendiri merupakan provinsi ke-27 Indonesia sebelum memisahkan diri melalui referendum 1999.
Belum ada keterangan resmi mengenai materi spesifik yang dibahas di luar sambutan Megawati. Namun, kehadiran Ramos-Horta yang juga peraih Nobel Perdamaian itu menandakan adanya keseriusan kedua pihak dalam membangun kolaborasi riset dan pendidikan di kawasan.
Pernyataan Megawati tentang "bersekutu dengan IPTEK" menegaskan sikapnya yang konsisten mendorong kemandirian teknologi nasional. Baginya, penguasaan sains bukan sekadar pencapaian akademik, melainkan instrumen kedaulatan dan daya tahan sebuah bangsa.
Pertemuan ini juga menjadi penegasan posisi Megawati di panggung internasional meski tak lagi memegang jabatan eksekutif. Sebagai tokoh yang pernah memimpin Indonesia, ia tetap aktif dalam forum-forum strategis yang membahas arah pembangunan global, khususnya di bidang sains dan teknologi.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan lanjutan dari pihak Megawati Institute atau delegasi Timor Leste mengenai hasil konkret pertemuan tersebut. Namun, agenda ini mempertegas bahwa diplomasi Indonesia tidak hanya berjalan di jalur pemerintahan, tetapi juga melalui jejaring tokoh nasional dan komunitas ilmiah internasional.