MPASI 6-8 Bulan dan Peregangan Lansia: Edukasi Posyandu yang Bisa Ditiru di Rumah

Penulis: Panji Pratama  •  Jumat, 28 Agustus 2026 | 16:32:01 WIB
Mahasiswa KKN Universitas Jember mendemonstrasikan pembuatan MPASI Puding Kentang Ayam dan Telur untuk bayi usia 6-8 bulan di Posyandu Desa Sumber Anom, Bondowoso.

SULAWESI TENGGARA — Kegiatan posyandu bukan cuma tempat menimbang badan. Di Desa Sumber Anom, Bondowoso, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Jember (UNEJ) mengisi kegiatan tersebut dengan edukasi yang menyentuh kebutuhan nyata: makanan pendamping ASI (MPASI) untuk bayi dan kebugaran tubuh untuk lansia. Program yang berlangsung 4–8 Agustus 2026 ini berkolaborasi dengan bidan dan perawat desa di lima posyandu berbeda.

Yang menarik, edukasi ini tidak berhenti di teori. Ada demonstrasi langsung pembuatan menu MPASI dan praktik gerakan peregangan yang bisa diulang di rumah. Ini kabar baik bagi ibu muda yang ingin memastikan asupan gizi anaknya optimal sekaligus menjaga kesehatan orang tua di rumah.

Resep MPASI Puding Kentang Ayam dan Telur untuk Bayi 6-8 Bulan

Salah satu materi yang paling dinanti adalah demo masak MPASI. Mahasiswa KKN memperagakan pembuatan Puding Kentang Ayam dan Telur, sebuah menu yang mengacu pada pedoman Kementerian Kesehatan RI. Teksturnya yang lembut cocok untuk bayi usia 6–8 bulan yang baru belajar makan.

Bahan utamanya sederhana: kentang sebagai sumber karbohidrat, ayam sebagai protein hewani, dan telur yang kaya akan lemak baik serta kolin untuk perkembangan otak. Kombinasi ini penting karena kebutuhan zat besi bayi mulai meningkat di usia ini, dan ASI saja tidak cukup.

Para ibu juga mendapat panduan lewat flyer yang dibagikan. Isinya mencakup waktu yang tepat memulai MPASI, tekstur makanan sesuai tahapan usia, hingga contoh camilan selingan bergizi. Materi ini bisa dipelajari ulang di rumah, jadi tidak perlu khawatir lupa.

Praktik Peregangan Otot untuk Lansia yang Aman Dilakukan Sendiri

Sementara di Posyandu Lansia, fokusnya adalah menjaga tubuh tetap bugar. Mahasiswa KKN memberikan sosialisasi pentingnya aktivitas fisik di usia lanjut, lalu mengajak para peserta mempraktikkan gerakan peregangan sederhana. Gerakan ini dirancang aman dilakukan mandiri di rumah tanpa alat bantu.

Manfaatnya nyata: membantu menjaga kelenturan otot, mengurangi rasa pegal, dan mempertahankan kemampuan bergerak sehari-hari. Salah satu peserta mengaku senang, "Iya sudah tua, sering nyeri otot, jadi bisa dipraktikkan di rumah, enak." Ucapan ini menunjukkan edukasi yang diberikan memang menjawab keluhan yang mereka rasakan.

Peran Kader dan Tenaga Kesehatan dalam Mendukung Tumbuh Kembang

Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) poin 3, yaitu kehidupan sehat dan sejahtera. Mahasiswa KKN tidak bekerja sendiri; mereka mendampingi bidan dan perawat desa dalam layanan rutin seperti penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan balita.

Pemantauan ini krusial untuk mendeteksi dini masalah gizi. Dengan kolaborasi antara tenaga kesehatan, kader posyandu, dan orang tua, tumbuh kembang anak bisa terpantau lebih baik. Pengetahuan yang didapat dari posyandu diharapkan terus diterapkan di rumah, bukan hanya sekadar hadir saat kegiatan.

Bagi ibu muda, pelajaran dari program ini adalah pentingnya konsistensi. Baik dalam menyiapkan MPASI dengan bahan segar dan bergizi, maupun dalam meluangkan waktu untuk aktivitas fisik bersama keluarga. Kesehatan dimulai dari langkah kecil yang dilakukan setiap hari.

Reporter: Panji Pratama
Sumber: kompasiana.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top