Perempuan di Latoma Konawe Dibekali Keterampilan Olah Sagu dan Kue Basah Lewat PKHP 2026

Penulis: Lendra Saputra  •  Minggu, 30 Agustus 2026 | 16:46:01 WIB
Peserta PKHP 2026 di Latoma mengikuti pelatihan pengolahan sagu menjadi kerupuk dan pembuatan kue basah.

KONAWE — Kemandirian ekonomi perempuan di Kecamatan Latoma mulai dibangun dari dapur masing-masing. Lewat Program Peningkatan Kualitas Hidup Perempuan (PKHP) 2026, para peserta dibekali keterampilan mengolah sagu menjadi kerupuk serta membuat aneka kue basah yang bernilai jual.

Kegiatan yang berlangsung Sabtu (29/8/2026) ini dibuka langsung oleh Camat Latoma, Budurahim Torohula, S.Si., bersama Kepala UPT Trans Watutinawu, Haimin. Pelatihan digelar untuk menciptakan sumber pendapatan baru bagi keluarga, tidak hanya bergantung pada sektor ekonomi utama.

Keterampilan Baru untuk Usaha Rumahan

Kerupuk sagu dipilih karena bahan bakunya melimpah di wilayah ini. Selain itu, kue basah dinilai punya pasar yang stabil di warung-warung dan jaringan penjualan desa sekitar. Hasil produksi nantinya bisa langsung dipasarkan tanpa perlu menunggu modal besar.

Kepala Lembaga PKBM Sabandara, Yeni Fardian, S.Kom., mengatakan pelatihan ini dirancang agar peserta percaya diri mengembangkan usaha secara mandiri.

“Tujuan utama Program Peningkatan Kualitas Hidup Perempuan (PKHP) 2026 pada dasarnya tetap sejalan dengan konsep PKHP secara umum, yaitu pemberdayaan perempuan agar lebih berdaya secara sosial dan ekonomi,” katanya.

Target: Perempuan Mandiri dan Berpenghasilan Sendiri

Yeni menjelaskan, program ini tidak sekadar memberi keterampilan teknis. Perubahan yang diharapkan lebih mendasar: meningkatnya kualitas hidup perempuan sehingga lebih sejahtera, berpengetahuan, dan percaya diri menjalankan peran di keluarga maupun masyarakat.

“Kemandirian meningkat, mampu memiliki penghasilan sendiri, mandiri secara ekonomi, dan berperan aktif dalam keluarga serta masyarakat,” ujarnya.

Peserta didorong memiliki kemampuan menghasilkan pendapatan sendiri. Dengan begitu, ketergantungan pada sumber ekonomi keluarga bisa berkurang.

Pendampingan Pasca-Pelatihan agar Usaha Tak Berhenti

Keberhasilan PKHP tidak diukur dari selesainya pelatihan. Yeni menegaskan, keberlanjutan hasil program menjadi kunci agar keterampilan yang diperoleh benar-benar berdampak pada ekonomi keluarga.

Karena itu, PKBM Sabandara akan melakukan pendampingan kepada peserta setelah pelatihan. Pendampingan mencakup pembinaan kelompok usaha agar peserta saling mendukung, sekaligus memfasilitasi akses pemasaran produk.

“PKBM berperan memastikan keberlanjutan hasil program dengan melakukan pendampingan kepada peserta setelah pelatihan, membina kelompok usaha agar peserta dapat saling mendukung, serta memfasilitasi akses pemasaran produk,” jelasnya.

Selain pendampingan, monitoring dan evaluasi dilakukan secara berkala untuk melihat sejauh mana keterampilan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Langkah ini diharapkan membuat usaha yang dirintis peserta tidak berhenti setelah kegiatan selesai.

“PKBM juga melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala untuk memastikan keterampilan dan pengetahuan yang diperoleh benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga dapat meningkatkan ekonomi keluarga secara berkelanjutan,” pungkas Yeni.

Reporter: Lendra Saputra
Sumber: rubriksatu.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top