KENDARI — Pemadaman listrik yang masih berlangsung di Kota Kendari mulai mengganggu aktivitas pelaku usaha. Hikmawati (34), pengelola usaha makanan beku di Jalan Tunggala, mengaku sejumlah produknya menjadi lebih cepat mencair saat listrik padam selama tiga hingga empat jam.
“Kalau untuk daging masih lumayan aman karena bekunya bagus. Asal tidak lama, tidak apa-apa. Barang jadi mudah lembek karena pemadaman lumayan lama, sekitar tiga sampai empat jam,” kata Hikmawati, Kamis (3/9/2026).
Pemadaman juga menghambat pemesanan dan transaksi karena usahanya mengandalkan koneksi Wi-Fi. Penggunaan genset belum menjadi solusi lantaran bahan bakar solar sulit diperoleh dan harus mengantre.
“Kami juga mengalami kendala di transaksi dan pemesanan karena menggunakan Wi-Fi. Mau pakai genset juga, solar mengantre dan susah. Semoga saja cepat membaik,” ujarnya.
Pemadaman bergilir ini dipicu berkurangnya daya mampu pasok pada sistem kelistrikan Sulawesi bagian selatan. Penyebab utamanya adalah pemeliharaan infrastruktur di PLTU Jeneponto, ditambah faktor cuaca dan meningkatnya konsumsi listrik masyarakat.
Untuk mempercepat pemulihan, PLN UID Sulselrabar mengerahkan lebih dari 230 petugas teknik. General Manager PLN UID Sulselrabar, Edyansyah, mengatakan percepatan pekerjaan menjadi fokus utama agar sistem kembali normal sesuai jadwal.
“Saat ini lebih dari 230 teknisi sudah dikerahkan untuk percepatan proses pemeliharaan, mari kita berdoa bersama agar dipermudah prosesnya sehingga dapat selesai sesuai dengan jadwal,” kata Edyansyah dalam keterangan tertulisnya, Kamis (3/9/2026).
PLN menargetkan PLTU Jeneponto kembali melayani sistem pada 5 September 2026. Pola operasi dari sisi pembangkitan dan sistem kelistrikan terus dioptimalkan untuk mempercepat normalisasi pasokan.
Manajer PLN UP3 Kendari, Hery Supriyadi, menyampaikan permohonan maaf kepada pelanggan atas ketidaknyamanan akibat pemadaman bergilir di sejumlah wilayah Sultra.