SULAWESI TENGGARA — Kekeringan yang melanda sentra padi di Lamongan mulai teratasi. Dari pendataan terbaru Kementerian Pertanian, hampir seluruh lahan yang sempat kritis kini kembali mendapat pasokan air, sehingga petani bisa mempertahankan musim tanamnya di tengah dampak El Nino.
Penanganan terbesar tercatat di Kecamatan Kalitengah, di mana 1.855 hektare sawit yang ditanami padi berumur 0-40 hari berhasil teraliri penuh. Kombinasi pompanisasi dan normalisasi saluran menjadi kunci utama di wilayah ini.
Dua Kecamatan Masih Berjuang
Pekerjaan rumah terbesar masih berada di Kecamatan Turi. Dari 791 hektare lahan terdampak, baru 622 hektare yang teraliri air, menyisakan 169 hektare yang membutuhkan penanganan lanjutan. Kecamatan Sugio juga masih menyisakan 31 hektare dari total 94 hektare lahan yang terdampak.
Adapun lima kecamatan lainnya—Dekat, Karang Binangun, Glagah, Sukodadi, dan Kalitengah—hampir semuanya tuntas. Di Kecamatan Dekat, dari 397 hektare lahan padi berumur 40-45 hari, tinggal 17 hektare yang menyusul. Sementara Karang Binangun, Glagah, dan Sukodadi tercatat tuntas 100 persen.
Strategi Mitigasi Sejak Awal
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa percepatan ini bukan kebetulan. Pemerintah telah menyiapkan strategi menghadapi kekeringan sejak awal pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, dengan menjadikan pompanisasi dan perbaikan jaringan irigasi sebagai instrumen utama menjaga musim tanam petani.
Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Pertanian, Arief Cahyono, menyebut capaian pengairan 3.233 hektare menunjukkan langkah cepat jajaran di lapangan. "Sisa 217 hektare, khususnya di Kecamatan Turi dan Sugio, terus dikawal agar segera tuntas," ujarnya.
Sinergi Lintas Instansi
Keberhasilan penanganan ini tidak lepas dari koordinasi antara Kementerian Pertanian, Penjabat Gubernur Jawa Timur, dan pemerintah daerah Kabupaten Lamongan. Kolaborasi ini akan terus diperkuat untuk memastikan seluruh lahan terdampak dapat teraliri secara menyeluruh dalam waktu dekat.
Dengan selesainya pengairan di mayoritas lahan, petani Lamongan diharapkan bisa melanjutkan siklus tanam hingga panen tanpa gangguan berarti, sekaligus menjaga produksi padi nasional di tengah ancaman iklim ekstrem.