SULAWESI TENGGARA — Film "Thirteen in Gaza" garapan sutradara Palestina Hosam Abu Dan memenangkan NETPAC Award di ajang Toronto International Film Festival (TIFF) akhir pekan lalu. Drama ayah dan anak ini digarap sepenuhnya di Gaza bersama kru dan pemain lokal Palestina di tengah kondisi perang. Deadline turut merilis trailer internasional film tersebut untuk pertama kalinya.
Penghargaan NETPAC Award diberikan setelah "Thirteen in Gaza" menjalani pemutaran perdana dunia di seksi Centrepiece TIFF. Film ini menjadi produksi panjang lokal pertama yang keluar dari Gaza sejak kampanye militer Israel dimulai, yang dipicu serangan 7 Oktober 2023. Konflik tersebut telah menewaskan hampir 74.000 orang, melukai lebih dari 173.000 orang, dan meratakan sebagian besar wilayah Gaza menjadi puing.
Mary Ziyara berperan sebagai Ragha, gadis 13 tahun yang kehilangan rumah dan sebagian besar keluarganya akibat serangan rudal di Jalur Gaza. Ia beradu akting dengan Firas Al-Masri yang memerankan sang ayah.
Keduanya bertahan hidup di kamp pengungsian yang padat. Ragha harus melewati masa pubertas tanpa rasa aman, privasi, dan kehadiran ibunya. Sementara sang ayah menghadapi pilihan-pilihan sulit demi memastikan mereka tetap hidup.
Hosam Abu Dan tidak bisa hadir di Toronto untuk menyaksikan pemutaran perdana karyanya. Pihak festival sengaja membiarkan kursi baris depan yang dialokasikan untuknya tetap kosong. Sutradara menyampaikan pesan melalui video yang direkam sebelumnya.
"Sejujurnya saya berharap bisa bersama kalian di momen ini... untuk menonton film ini di layar lebar, menyaksikan kelahiran Thirteen in Gaza, film yang hanya bisa saya bandingkan dengan anak pertama saya," ujarnya dengan latar tumpukan puing.
"Film ini lahir saat saya jauh darinya, itu perasaan yang berat," lanjut Abu Dan.
Abu Dan menegaskan seluruh proses syuting melibatkan cast dan kru lokal Gaza. Produksi menghadapi hambatan di setiap tahap. Ia mengenang insiden pada hari keempat syuting ketika serangan menghantam lokasi di dekat mereka dan seorang kolega mengalami luka serius.
"Salah satu situasi tersulit adalah pada hari keempat, serangan di dekat kami menghantam dan salah satu kolega kami terluka parah," katanya. "Setelah itu saya mulai bertanya pada diri sendiri apa artinya menghadirkan drama dari Gaza setelah perang panjang dan lama tidak ada drama yang keluar dari Gaza. Lalu saya sadar film ini dibuat dengan darah."
"Thirteen in Gaza" menjadi film panjang pertama Abu Dan setelah sebelumnya menggarap film pendek "Six Miles Out" dan dokumenter "Gaza Sound Man". Produksi ini mendapat dukungan dari Doha Film Institute dan Arab Culture Fund. Mad World menangani penjualan internasional film tersebut.
Kemenangan di TIFF menempatkan "Thirteen in Gaza" sebagai salah satu karya Palestina yang paling diperhatikan di sirkuit festival internasional tahun ini.