ESDM Targetkan CNG 3 Kg Gantikan LPG Subsidi Mulai 2027

Penulis: Naufal Aditama  •  Kamis, 15 Oktober 2026 | 12:05:31 WIB
Kementerian ESDM menargetkan penerapan CNG 3 kg sebagai pengganti LPG bersubsidi secara bertahap mulai 2027.

SULAWESI TENGGARA — Kementerian ESDM menargetkan penerapan Compressed Natural Gas (CNG) kemasan 3 kilogram sebagai pengganti LPG bersubsidi secara bertahap mulai 2027. Sebanyak 100 ribu tabung CNG 3 kg telah disiapkan untuk tahap awal penyaluran, diimpor langsung dari China. Uji coba selama sebulan di Lemigas kini masuk tahap evaluasi menyeluruh, dari keandalan fisik tabung hingga pematangan model bisnis.

Direktur Jenderal Minyak dan Bumi (Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman menyatakan proyek CNG 3 kg masih membutuhkan waktu beberapa bulan sebelum bisa diimplementasikan. Evaluasi mencakup keandalan fisik tabung dan valve, serta pematangan model bisnis penyalurannya ke masyarakat.

"Jadi ini nanti akan memakan waktu beberapa bulan lagi, sehingga kita harapkan di 2027 sudah bisa diimplementasikan, Insyaallah," ujar Laode saat ditemui di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta Pusat, Rabu (14/10).

100 Ribu Tabung Impor Disiapkan untuk Tahap Awal

Pemerintah telah menyiapkan minimal 100 ribu tabung CNG 3 kg yang diimpor dari China sebagai langkah awal penyaluran tahun depan. Laode menyebut angka itu merupakan batas minimum dalam kontrak pengadaan yang sudah berjalan.

Pengumuman resmi mengenai kepastian skema dan implementasi di lapangan akan disampaikan langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelum program diluncurkan secara nasional.

Uji Tembak 850 Derajat Celsius Jadi Tahap Terakhir

Bahlil sebelumnya mengungkap pengujian CNG 3 kg memasuki tahap akhir. Tabung dan valve tinggal menjalani uji tembak dengan pembakaran 850 derajat celsius yang akan dilakukan di China dan Indonesia.

"Saya baru tiga hari lalu mendapat presentasi hasil tabung 3 kg dan valve-nya. Sekarang Lemigas lagi uji yang terakhir," ujar Bahlil ketika ditemui di Kantor Kementerian ESDM Jakarta, Senin (3/8), melansir Antara.

Tekanan Gas 200-250 Bar Jadi Tantangan Teknis Utama

CNG bukan teknologi baru di Indonesia. Gas ini sudah dipakai sektor perhotelan, restoran, dan kafe (horeka), termasuk program Makan Bergizi Gratis. Namun pemanfaatannya masih terbatas pada tabung berkapasitas besar di atas 10 hingga 20 kilogram.

Tantangan utama uji coba terletak pada aspek teknis. Tekanan gas CNG mencapai 200 hingga 250 bar, jauh lebih tinggi dibanding LPG yang hanya berada di kisaran 5-10 bar. Perbedaan tekanan itu menuntut spesifikasi tabung dan valve yang lebih ketat sebelum dinyatakan layak edar.

Mengapa Pemerintah Kejar CNG sebagai Pengganti LPG

Pemerintah terus mengkaji penggunaan CNG sebagai alternatif pengganti LPG tabung 3 kilogram guna menekan ketergantungan impor energi. Seluruh bahan baku CNG tersedia di dalam negeri, termasuk sumber gas alam yang melimpah.

  • Seluruh bahan baku tersedia domestik, mengurangi ketergantungan impor LPG
  • Pemerintah menemukan cadangan gas baru di Kalimantan Timur yang berpotensi dialokasikan untuk kebutuhan domestik
  • Uji coba telah berlangsung sebulan di Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (Lemigas)
  • 100 ribu tabung tahap awal diimpor dari China dengan kontrak pengadaan minimal

Implikasi bagi Konsumen dan Pelaku Usaha Energi

Jika terealisasi pada 2027, peralihan ke CNG 3 kg berpotensi mengubah lanskap distribusi energi rumah tangga yang selama ini bergantung pada LPG bersubsidi. Pelaku usaha di sektor gas dan logistik perlu menyiapkan infrastruktur penyimpanan bertekanan tinggi, sementara konsumen menunggu kepastian harga jual CNG dibanding LPG 3 kg.

Sejauh mana skema subsidi akan diterapkan pada CNG masih menunggu pengumuman resmi Bahlil. Kepastian itu krusial karena menyangkut daya beli rumah tangga sasaran dan keberlanjutan model bisnis distributor di daerah.

Reporter: Naufal Aditama
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top