SULAWESI TENGGARA — Perubahan mata pencaharian mulai terasa di Tanggamus. Warga yang sebelumnya hanya mengandalkan hasil bumi dan kerja serabutan kini punya opsi baru: bekerja di sektor industri. Perusahaan energi milik negara, Pertamina, menjadi salah satu penggerak utama perubahan ini lewat program kemitraan dan pemberdayaan masyarakat.
Pelatihan dan Rekrutmen untuk Warga Lokal
Program yang dijalankan tidak sekadar membuka lowongan kerja. Pertamina disebut telah menyiapkan skema pelatihan kerja bagi warga sekitar agar keterampilan mereka sesuai dengan kebutuhan industri. Pendekatan ini penting karena tidak semua warga memiliki latar belakang pendidikan atau pengalaman di sektor formal.
Dengan pelatihan, warga lokal tidak hanya menjadi penonton di daerahnya sendiri. Mereka dipersiapkan untuk mengisi posisi-posisi yang membutuhkan keahlian khusus, sehingga peluang untuk direkrut menjadi lebih besar. Hal ini sekaligus menjawab tantangan umum di daerah industri, yaitu kesenjangan antara kebutuhan perusahaan dan kompetensi tenaga kerja lokal.
Mengurangi Ketergantungan pada Sektor Informal
Selama ini, struktur ekonomi masyarakat Tanggamus bertumpu pada pertanian dan sektor informal yang pendapatannya tidak menentu. Masuknya industri membawa angin segar bagi stabilitas ekonomi rumah tangga. Warga tidak lagi harus merantau atau bergantung pada musim panen untuk mendapatkan penghasilan tetap.
Kehadiran lapangan kerja baru ini diharapkan mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah signifikan. Dampak jangka panjangnya, roda ekonomi lokal akan berputar lebih cepat. Uang yang dihasilkan dari sektor industri akan kembali dibelanjakan di pasar-pasar tradisional dan usaha kecil di sekitar Tanggamus.
Sinergi Perusahaan dan Masyarakat
Model pemberdayaan yang diusung Pertamina di Tanggamus menunjukkan bahwa operasional industri dan kesejahteraan masyarakat bisa berjalan beriringan. Perusahaan tidak hanya menambang atau memproduksi, tetapi juga membangun ekosistem sosial di sekitarnya. Inisiatif ini menjadi contoh bagaimana badan usaha milik negara menjalankan fungsi sosialnya di tengah aktivitas bisnis.
Ke depan, keberlanjutan program menjadi kunci. Jika rekrutmen dan pelatihan terus berjalan konsisten, bukan tidak mungkin Tanggamus akan bertransformasi dari daerah agraris menjadi kawasan industri yang mandiri. Warga yang tadinya hanya bisa menjadi buruh tani, kini punya kesempatan untuk tumbuh bersama perusahaan.