SULAWESI TENGGARA — Sebanyak 39% usaha kecil dan menengah (UKM) di Inggris menerima tagihan AI yang jauh lebih tinggi dari perkiraan, sementara hanya 23% memiliki proses tinjauan internal resmi untuk penggunaan AI. Temuan Pax8 ini menunjukkan adopsi AI di kalangan bisnis kecil berjalan lebih cepat ketimbang kemampuan mereka mengawasi biaya dan tata kelolanya. Kondisi ini paling relevan bagi pelaku usaha yang mulai menyisipkan alat AI ke operasional harian tanpa anggaran khusus.
Survei Pax8 menemukan 24% UKM Inggris mendapati alat AI tak resmi beroperasi di dalam bisnis mereka dalam enam bulan terakhir. Fenomena yang dikenal sebagai shadow AI ini muncul karena karyawan memakai aplikasi AI sendiri tanpa sepengetahuan manajemen.
Angka-angka tersebut menggambarkan masalah visibilitas yang berlapis. Bukan hanya soal siapa yang memakai AI, tetapi juga seberapa besar biaya yang keluar untuknya.
Tagihan Bengkak dan Anggaran yang Tidak Jelas
Dari seluruh responden, 39% mengaku pernah menerima tagihan AI yang melonjak di luar dugaan. Hanya 12% UKM Inggris yang punya anggaran khusus untuk AI.
Sebanyak 19% lainnya bahkan tidak bisa memisahkan pengeluaran AI dari belanja teknologi umum. Akibatnya, hanya 16% yang yakin mampu menghitung return on investment (ROI) alias imbal hasil dari investasi AI mereka.
Angka kepercayaan diri itu jauh di bawah Swedia yang mencapai 45%. Artinya, kemampuan UKM Inggris mengukur nilai ekonomis AI baru sekitar sepertiga dari pelaku usaha di negara Nordik tersebut.
Audit Internal Tertinggal dari Jerman dan AS
Hanya 23% bisnis Inggris memiliki proses tinjauan formal dan terdokumentasi untuk AI yang mereka bangun sendiri. Sebagai perbandingan, Jerman mencatat 32% dan Amerika Serikat 36%.
Kesenjangan makin terlihat pada tingkat pengembangan AI internal. Sekitar 54% UKM Inggris mengembangkan solusi AI sendiri, sementara di AS angkanya menembus 81%.
Data ini menunjukkan UKM Inggris lebih banyak mengonsumsi alat AI pihak ketiga ketimbang membangunnya. Pola itu memperbesar risiko pengeluaran tak terkendali karena biaya langganan dan pemakaian API sulit dipantau tanpa pencatatan khusus.
Keamanan Jadi Penghalang Utama
Kekhawatiran soal keamanan masih menjadi hambatan adopsi yang paling sering disebut responden. Namun Pax8 membingkai kondisi ini sebagai peluang bagi vendor perangkat lunak dan penyedia layanan TI.
Alih-alih menempatkan beban pada bisnis sebagai konsumen, laporan tersebut menilai penyedia punya tanggung jawab lebih besar. Mereka diminta menghadirkan kontrol visibilitas, keamanan, tata kelola, serta opsi manajemen biaya yang lebih memadai.
"These findings highlight the importance of trusted businesses that can help SMBs bring agents, workflows, data and tools together as a connected intelligence layer," ujar CEO EMEA Pax8, Harald Nuij.
Pelajaran untuk Pelaku Usaha di Indonesia
Pola yang terjadi di Inggris relevan bagi UMKM Indonesia yang mulai memakai chatbot, alat desain, atau asisten kode berbasis AI. Tanpa pencatatan terpisah, biaya langganan bulanan bisa menumpuk tanpa disadari.
Langkah paling praktis adalah memisahkan pos anggaran AI dari belanja teknologi umum. Setelah itu, susun daftar alat AI resmi yang boleh dipakai karyawan agar praktik shadow AI tidak meluas.
Bagi pelaku usaha yang belum siap mengaudit sendiri, memanfaatkan penyedia layanan TI lokal bisa jadi jalan tengah. Pastikan penyedia tersebut transparan soal biaya pemakaian dan punya kontrol keamanan yang jelas.