LUWU TIMUR — Kepastian keamanan pangan tersebut disampaikan menyusul rangkaian pemulihan lahan pertanian pascakejadian tumpahan minyak di Kecamatan Towuti. Vale Indonesia mendampingi petani selama satu siklus budidaya penuh, sejak Februari hingga September 2026, di sejumlah desa dan dusun terdampak.
Pendampingan menyasar Desa Lioka, Dusun Molindowe dan Polapi, Baruga, Langkea Raya, Matompi, serta Timampu. Sampel gabah yang diuji berasal dari demplot atau lahan percontohan di kawasan tersebut.
Empat Laboratorium dan Institusi yang Terlibat dalam Pengujian
Pengujian sampel gabah melibatkan IPB Consulting, Laboratorium ICBB, Laboratorium BRMP Pascapanen Pertanian, Kementerian Pertanian, serta Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Luwu Timur. Hasil dari laboratorium-laboratorium itu menjadi rujukan utama sebelum kesimpulan keamanan konsumsi diambil.
Head of External Relations Sorowako & Outer Area Vale Indonesia, Yusri Yunus, menyebut pengujian ilmiah sebagai bagian dari komitmen perusahaan memulihkan sektor pertanian warga.
"Pengujian ilmiah ini menjadi bagian dari wujud komitmen Perusahaan bahwa seluruh rantai roda perekonomian sektor pertanian di Kecamatan Towuti harus kembali berjalan normal," kata Yusri.
Bupati Luwu Timur Targetkan Musim Tanam Kedua Mulai Oktober
Bupati Luwu Timur, Irwan Bachri Syam, mengapresiasi kolaborasi berbagai pihak dalam penanganan insiden, mulai dari pembersihan area hingga pengujian hasil panen. Pemerintah daerah berharap musim tanam kedua bisa dimulai pada Oktober atau paling lambat November 2026.
Pemda bersama Vale Indonesia juga berkomitmen membantu penyediaan bibit bagi petani terdampak. Dukungan bibit itu melengkapi pendampingan budidaya yang sudah berjalan satu siklus.
Petani Timampu: Hasil Dua Laboratorium Jadi Pegangan Menanam Lagi
Petani Desa Timampu, Mursalim, menyatakan hasil pengujian menjadi dasar untuk melanjutkan penanaman berikutnya. Menurut dia, kesimpulan dari dua laboratorium sudah cukup jelas.
"Dari hasil dua lab yang disampaikan itu, kita bisa ambil kesimpulan bahwa penanaman berikutnya bisa kita lakukan karena hasilnya sudah layak konsumsi," ujarnya.
Rangkaian pengujian ini menutup tahap pemulihan lahan pascatumpahan MFO di Towuti. Pendampingan lanjutan bagi petani terdampak tetap berjalan hingga musim tanam berikutnya dimulai.