Fusion Power Startup Bidik Kontrak Pertahanan, Danai Reaktor Laser

Penulis: Lendra Saputra  •  Minggu, 13 September 2026 | 20:16:31 WIB
Startup fusi Xcimer mengumumkan kemitraan dan investasi dari RTX Ventures untuk pengembangan teknologi laser berdaya tinggi.

SULAWESI TENGGARA — Industri fusion power kembali mendekati akar historisnya. Sejumlah startup yang mengembangkan reaktor fusi kini menjalin kemitraan dengan sektor pertahanan, sebuah hubungan yang sempat meredup tetapi tidak pernah benar-benar hilang sejak era Perang Dingin.

Langkah ini diambil ketika pendanaan modal ventura untuk teknologi iklim — sumber dana yang biasanya menopang startup fusi — mulai tersendat. Fusi tetap menyerap porsi besar pendanaan iklim terbaru, tetapi biaya pengembangannya sangat mahal. Investor ventura umumnya menyambut baik ketika perusahaan portofolio mereka menemukan sumber dana lain.

Xcimer Gandeng RTX Ventures

Startup fusi berbasis laser Xcimer mengumumkan kemitraan sekaligus investasi dari RTX, konglomerat yang menaungi kontraktor pertahanan Raytheon. Melalui kesepakatan itu, Xcimer menerima pendanaan dari RTX Ventures, sementara RTX mulai mengeksplorasi pemanfaatan laser berdaya tinggi Xcimer untuk kebutuhan mereka sendiri.

Xcimer berbasis di Denver dan mengoperasikan apa yang diklaim sebagai sistem laser milik swasta terbesar di dunia. Sistem bernama Phoenix itu akan dipakai mengembangkan pembangkit listrik. Di dalam pembangkit nanti, laser akan menembaki target bahan bakar hingga atom-atom di dalamnya berfusi dan melepaskan energi.

Phoenix saat ini beroperasi pada daya satu orde lebih rendah dari yang dibutuhkan pembangkit komersial. Meski begitu, dayanya sudah cukup menarik perhatian industri pertahanan.

Pacific Fusion Kerja Sama dengan NNSA

Pacific Fusion mengumumkan nota kesepahaman dengan National Nuclear Security Administration (NNSA) bulan lalu untuk mengerjakan eksperimen fusi berdensitas energi tinggi bersama. Perusahaan itu baru saja memulai pembangunan fasilitas demonstrasi di New Mexico, tidak jauh dari Sandia dan Los Alamos National Laboratories.

Tujuan utama fasilitas tersebut adalah membuktikan desain perusahaan mampu menghasilkan daya lebih besar daripada yang dikonsumsi. Namun fasilitas itu punya kegunaan lain. Reaksi fusi di sana akan jauh lebih kuat dibanding yang saat ini dipakai pemerintah untuk eksperimen senjata nuklir.

"Ternyata fasilitas yang kami bangun juga punya utilitas di aplikasi pertahanan kelas dunia ini," kata Keith LeChein, co-founder dan chief technical officer Pacific Fusion, kepada TechCrunch.

Kombinasi itu bukan kebetulan. Aplikasi pertahanan, menurut Carrie von Muench, co-founder dan chief operating officer Pacific Fusion, "selalu ada di pikiran kami." LeChein yang mengembangkan teknologi inti perusahaan sebelumnya bekerja di Sandia National Laboratories, Lawrence Livermore National Laboratory, dan NNSA.

Mengapa Industri Pertahanan Butuh Laser

Industri pertahanan sudah lama meneliti senjata laser, tetapi minat melonjak setelah drone mengubah wajah perang modern. Sistem pertahanan udara tradisional dirancang untuk menghadapi pesawat berawak yang ukurannya lebih besar dan jumlahnya lebih sedikit.

Ketidaksesuaian itu sempat memunculkan situasi yang nyaris komikal. Sekitar satu dekade lalu, salah satu sekutu Amerika Serikat menembak jatuh drone konsumen seharga 200 dolar AS (sekitar Rp 3,3 juta) memakai rudal Patriot senilai 3 juta dolar AS (sekitar Rp 49,5 miliar). Efektif, tetapi tidak efisien.

Senjata laser menjanjikan hitungan biaya yang berbeda. Alih-alih menembakkan satu rudal mahal sekali pakai, laser menembak cepat dan relatif murah, memakai listrik dari generator atau reaktor dan mesin kapal perang. Startup fusi yang menggarap desain reaktor berbasis laser pun menjadi mitra ideal untuk mengembangkan senjata jenis ini.

Konteks Historis

Sektor fusi lahir puluhan tahun lalu ketika para fisikawan mencari kegunaan yang lebih konstruktif dari ilmu di balik bom termonuklir yang menyebar selama Perang Dingin. Sudut keamanan nasional tidak pernah benar-benar hilang.

Eksperimen fusi bersejarah pada 2022 berlangsung di National Ignition Facility, fasilitas yang telah mendukung aplikasi keamanan nasional lebih dari 25 tahun. Hubungan yang kembali menghangat ini disebut sudah terlambat, dan berpotensi memberi dorongan berarti bagi startup fusi yang mau memanfaatkannya.

Reporter: Lendra Saputra
Sumber: techcrunch.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top