Truk Logistik Cemari Cakung, 1,9 Juta Kasus ISPA Jakarta 2025

Penulis: Obi Permana  •  Jumat, 18 September 2026 | 13:03:31 WIB

SULAWESI TENGGARA — Dinas Kesehatan DKI Jakarta mencatat hampir 1,9 juta kasus ISPA sepanjang 2025, dengan Jakarta Timur dan Jakarta Utara sebagai penyumbang tertinggi. Kawasan Cakung, Cilincing, hingga Tanjung Priok yang dilintasi ribuan truk logistik setiap hari menjadi titik terparah, dengan konsentrasi PM2.5 mencapai 63 mikrogram per meter kubik di Jalan Raya Bekasi. Angka itu lebih dari enam kali lipat batas aman tahunan WHO.

Pemantauan Stasiun Pemantau Kualitas Udara (SPKU) milik Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta pada 1 Juni–11 Agustus 2026 menempatkan kawasan Cakung–Cilincing–Tanjung Priok pada rentang ISPU harian 68–131, kategori Sedang hingga Tidak Sehat. Konsentrasi PM2.5 di tiga kawasan itu bergerak antara 13,64 hingga 149 mikrogram per meter kubik.

Jaringan pemantauan DLH di wilayah tersebut terdiri dari 3 SPKU rujukan dan 13 sensor berbiaya rendah. Pada 17 Agustus 2026, indeks IQAir di Jalan Raya Bekasi, tepat di depan Pasar Cakung, menyentuh angka 156 atau kategori tidak sehat, dengan PM2.5 mencapai 63 mikrogram per meter kubik.

223 Truk Melintas Sebelum Pukul Delapan Pagi

Debu di depan Pasar Cakung, Jakarta Timur, datang sebelum matahari naik sempurna. Belum genap pukul delapan, 223 truk sudah melintas dalam kurang dari satu jam, atau rata-rata satu kendaraan setiap enam belas detik.

Sebagian truk baru keluar dari depo dengan bak kosong. Sebagian lain datang dari arah pelabuhan, beberapa sarat muatan hingga ditutup terpal karena melebihi kapasitas.

Mang Bewok, 62 tahun, sudah dua puluh tahun berdiri di pinggir Jalan Raya Bekasi KM 27 sebagai tukang parkir. Ia tak lagi memakai masker.

"Udah terbiasa sama debunya, lebih-lebih pas musim kemarau," katanya sambil menunjuk antrean truk yang mengular sampai badan jalan di depan SPBU seberang.

Cerita serupa datang dari Abinem, 68 tahun, pedagang jamu keliling yang berjualan di kawasan itu sejak usia 20-an. Kini ia selalu memakai masker saat berjualan dekat jalan raya, kebiasaan yang tak ia lakukan ketika berjualan di kampung.

"Pake masker. Pasar kan deket jalan, banyak debu," ujar Abinem.

Anak Sekolah Menyeberang di Antara Truk Kontainer

Delapan puluh meter dari SPBU Cakung, di gang-gang padat Jalan Tipar Cakung, kekhawatiran berbentuk lain. Apriyanti Dwi Hanisih, 28 tahun, yang sehari-hari disapa Santi, berjualan es jeruk sambil mengawasi anak-anak sekolah menyeberang di antara truk kontainer besar.

Menurut Santi, kendaraan sebesar itu sebenarnya dilarang melintasi jalan sekecil Tipar Cakung.

Juadi, Wakil Kepala Sekolah SDN Cakung Barat 8 Pagi, merasakan hal serupa. Jam operasional truk kerap berimpit dengan jam berangkat dan pulang sekolah, sehingga paparan debu masuk ke paru-paru murid setiap hari.

"Kalo bisa sih truk-truk itu jam operasionalnya mundur, biar nggak sama dengan jam operasional berangkat sekolah. Kalau setelah jam 7 gitu lebih aman," kata Juadi.

ISPA Selalu Masuk 10 Penyakit Terbanyak di Cakung Barat

Di Puskesmas Pembantu Cakung Barat, keluhan warga seperti Mang Bewok dan Abinem bukan cerita baru. Istikarahma, Kepala Pustu Cakung Barat yang akrab disapa Ima, menyebut ISPA selalu masuk sepuluh penyakit terbanyak setiap tahunnya di wilayah itu.

Selama hampir dua dekade bertugas di tiga pos berbeda, Ima mengaku pola ini tak pernah bergeser. ISPA selalu berdampingan dengan tren baru penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes yang kini menyerang usia lebih muda.

Dinkes DKI menyebut lonjakan kasus ISPA dipicu kombinasi dua faktor, yakni kualitas udara yang memburuk dan musim kemarau basah yang menurunkan daya tahan tubuh warga.

Inversi Udara Pagi Perangkap Polutan di Permukaan

Dudi Gardesi, Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, menyebut kualitas udara di kawasan itu bersifat dinamis, mengikuti aktivitas sumber emisi maupun kondisi cuaca.

"Konsentrasi polutan cenderung meningkat pada waktu-waktu tertentu, terutama ketika aktivitas kendaraan meningkat pada pagi dan malam hari," ujarnya kepada Prohealth pada Kamis, 13 Agustus 2026.

Fenomena inversi udara di pagi hari, ketika lapisan udara hangat menahan polutan agar tak menyebar ke atas, membuat konsentrasi partikulat terperangkap lebih dekat dengan permukaan tempat warga beraktivitas.

Musim kemarau memperburuk kondisi ini. Berkurangnya hujan berarti berkurang pula proses pembersihan alami polutan dari udara.

Cerita ini berulang di sepanjang koridor logistik nasional, dari Cakung, Cilincing, Tanjung Priok, hingga Cikarang, wilayah padat penduduk yang setiap hari dilintasi ribuan truk.

Reporter: Obi Permana
Sumber: prohealth.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top