SULAWESI TENGGARA — Ajib menekankan potensi penghematan subsidi BBM jika motor listrik nasional masif digunakan. “Saat ini, teridentifikasi pengguna motor di Indonesia lebih dari 145 juta unit. Jika asumsi penggunaan per hari 1 liter pertalite per hari per motor, pemerintah perlu menggelontorkan subsidi lebih dari 500 miliar rupiah per hari,” ujarnya. Dengan motor listrik, subsidi tersebut bisa dialihkan untuk program lain.
Menurut Ajib, setidaknya ada tiga hal positif yang akan berdampak pada ekonomi nasional jika motor listrik nasional terwujud. Pertama, kesesuaian dengan use case – rancangan yang sesuai kebutuhan masyarakat Indonesia sehingga menjadi alat ekonomi produktif. Kedua, pengurangan emisi gas buang hingga lebih dari 95 persen, sejalan dengan gagasan green economy Presiden Prabowo. Ketiga, pengurangan subsidi BBM seperti disebutkan di atas.
Untuk mewujudkan manfaat itu, Ajib menegaskan dua syarat wajib. Pertama, produk harus memiliki TKDN lebih dari 50 persen, termasuk kekayaan intelektual lokal. “Misalnya chassis, body pack, wiring, dan lain-lain,” katanya. Kedua, harus ada rantai pasok komponen lokal yang melibatkan industri kecil-menengah serta koperasi. “Bagian-bagian komponen harus menumbuhkan industri-industri kecil sehingga ekosistem ekonominya bisa memberikan dampak luas ke masyarakat. Rantai pasok ini bisa menggandeng koperasi-koperasi atau persatuan industri kecil-menengah otomotif,” imbuh Ajib melalui keterangan tertulis, Kamis (23/7).
Ajib juga memberikan catatan penting. Ia mempertanyakan apakah motor listrik nasional benar-benar produk dalam negeri atau hanya stempel ulang dari motor asing. Hal ini relevan mengingat pemerintah akan menunjuk satu perusahaan untuk mengerjakan proyek tersebut, namun identitasnya belum diumumkan. Presiden Prabowo sebelumnya menyatakan motor listrik nasional akan segera diluncurkan dalam waktu dekat.