KENDARI — Seorang petani di kawasan Agrowisata Nanga-Nanga, Boy, mengungkapkan bahwa kegiatan pendampingan dari Distan Kota Kendari selama ini lebih banyak terpusat di wilayah persawahan Amohalo dan Labibia, serta kawasan penanaman jagung di Puuwatu. Menurutnya, kawasan pertanian Nanga-Nanga yang aktif membudidayakan durian, alpukat, pisang, salak, hingga porang justru jarang dikunjungi.
“Dinas Pertanian jarang datang disini (Kawasan Pertanian Nanga-nanga). Pendampingan paling banyak dilakukan di kawasan persawahan Amohalo dan Labibia, serta penanaman jagung di Puuwatu. Padahal, di kawasan agrowisata Nanga-Nanga ini kami para petani juga aktif membudidayakan tanaman buah-buahan seperti durian, alpukat, pisang, salak, hingga porang,” ujar Boy dalam gelaran Rakerda tersebut.
Atas kondisi tersebut, para petani di Nanga-Nanga berharap ada intervensi nyata dari dinas terkait. Setidaknya ada tiga kebutuhan utama yang mereka ajukan dalam forum tersebut.
Meski mengkritisi pendampingan Distan Kota Kendari, para petani menyambut positif langkah cepat Tani Merdeka Indonesia Kota Kendari yang menggelar kegiatan langsung di tingkat tapak. Langkah ini dinilai sebagai angin segar bagi petani yang merindukan perhatian langsung di lapangan.
Para petani juga menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Pertanian (Kementan) RI. Menurut mereka, pihak Kementan sejauh ini dinilai konsisten dan rutin memberikan bantuan yang disalurkan melalui Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) di Kecamatan Baruga, Sulawesi Tenggara.
Melalui momentum Rakerda Tani Merdeka ini, para petani berharap suara dan kebutuhan mereka di Nanga-Nanga dapat didengar oleh Pemerintah Kota Kendari. Tujuannya agar pemerataan bantuan dan pendampingan sektor pertanian bisa terwujud tanpa membeda-bedakan komoditas maupun wilayah.
Hingga berita ini diturunkan, pewarta masih berupaya menghubungi Dinas Pertanian Kota Kendari untuk mendapatkan keterangan resmi terkait perihal ini.