SULAWESI TENGGARA — Toyota berencana mengerahkan hingga 400.000 robot humanoid di jaringan pabriknya mulai 2028, dengan investasi sekitar US$ 6,42 miliar atau Rp 114 triliun per tahun. Langkah ini menempatkan Toyota di barisan depan adopsi robot humanoid di industri otomotif, meski perusahaan menegaskan tujuannya bukan menggantikan pekerja manusia.
Rencana ini terungkap dari laporan Nikkei Asia yang dikutip Kamis (24/9). Dari total 400.000 unit, sebanyak 150.000 robot akan ditempatkan langsung di pabrik perakitan Toyota, sementara 250.000 unit lainnya dialokasikan ke fasilitas perusahaan dalam grup Toyota yang memproduksi komponen dan material.
Toyota tidak sekadar berencana. Perusahaan sudah mulai melatih robot humanoid bernama ELEY untuk bekerja di lini produksi. Robot ini punya dua tangan yang dirancang untuk tugas presisi, dengan sistem pergerakan menggunakan roda alih-alih kaki bipedal.
Yang menarik dari proses pelatihan ini: para pekerja Toyota ikut terlibat langsung. Mereka menggunakan alat bantu yang dibuat menyerupai jari robot, sehingga gerakan tangan manusia bisa direkam dan ditiru oleh ELEY. Pendekatan ini memungkinkan robot mempelajari tugas-tugas yang menuntut ketelitian gerakan tangan.
Pertanyaan soal nasib pekerja manusia langsung dijawab Toyota. Executive Vice President Toyota Hiroki Nakajima menyatakan perusahaan ingin menciptakan kondisi di mana robot dan manusia bisa bekerja berdampingan, bukan saling menggantikan.
Klaim itu punya dasar angka. Toyota saat ini memiliki sekitar 18.000 pekerja berpengalaman yang tersebar di 60 pabrik di seluruh dunia, termasuk 11 pabrik di Amerika Serikat. Rasio 400.000 robot berbanding 18.000 pekerja senior ini menunjukkan robot memang diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengganti tenaga kerja terampil.
Robot industri sudah puluhan tahun dipakai di lini produksi otomotif. Produsen mobil mengandalkan mesin untuk mengelas, merakit, hingga memindahkan komponen berat. Yang membedakan robot humanoid adalah tingkat fleksibilitasnya.
Robot humanoid dikembangkan agar bisa mengerjakan berbagai tugas di lingkungan yang sebelumnya dirancang untuk manusia. Artinya, pabrik tidak perlu merombak tata letak lini produksi secara masif untuk mengakomodasi robot jenis ini.
Toyota bukan satu-satunya pemain di arena ini. Hyundai berencana menggunakan robot humanoid Atlas di pabrik Hyundai dan Kia. Sejumlah produsen mobil China seperti Xpeng dan Nio juga tengah mengembangkan teknologi serupa.
Investasi Toyota sebesar US$ 6,42 miliar per tahun atau sekitar Rp 114 triliun menunjukkan skala taruhan perusahaan. Angka itu belum termasuk biaya riset dan pengembangan robot humanoid itu sendiri yang kemungkinan berjalan terpisah.
Dengan target sebesar ini, Toyota bersiap menjadikan robot sebagai bagian signifikan dari ekosistem pabriknya. Untuk saat ini, perusahaan menegaskan manusia masih tetap berada di dalam rantai produksi tersebut.