Tujuh Tahun Randi-Yusuf di Kendari, Keluarga Menanti Jawaban Siapa Penembak Yusuf Kardawi

Penulis: Naufal Aditama  •  Minggu, 27 September 2026 | 05:16:31 WIB
Peringatan tujuh tahun tragedi September 2019 digelar di Kendari dengan pemasangan spanduk dan diskusi.

KENDARI — Peringatan tujuh tahun tragedi September 2019 kembali digelar di Kendari. Spanduk dipasang, diskusi diadakan, dan jalanan kembali menjadi ruang mengenang dua mahasiswa yang tewas dalam aksi unjuk rasa. Namun seusai acara, lampu panggung dipadamkan, spanduk diturunkan, dan pertanyaan lama itu tetap menggantung.

Penulis dan jurnalis Kendari Kini, Irpan, menyoroti pola peringatan yang berulang setiap September. Ia menilai mengenang tragedi memang penting, tetapi cara mengenang perlu dievaluasi agar tidak sekadar mengulang agenda tahunan.

Pertanyaan yang Belum Terjawab di Tahun Ketujuh

Hingga kini, belum ada jawaban yang benar-benar memberi rasa keadilan atas tewasnya Muhammad Yusuf Kardawi. Pertanyaan siapa yang menembak mahasiswa tersebut masih belum terang.

Bagi keluarga, tujuh tahun berarti tujuh kali melewati ulang tahun tanpa orang yang mereka cintai. Tujuh kali pula kalender September datang membawa pertanyaan yang sama: siapa yang bertanggung jawab, dan mengapa jawabannya belum juga muncul.

Irpan menyebut persoalan ini bukan lagi milik satu kelompok. Randi dan Yusuf, tulisnya, adalah bagian dari sejarah kemanusiaan di Kendari, Sultra, bahkan Indonesia.

Ego Bendera dan Sekat yang Masih Terjaga

Salah satu persoalan yang disorot adalah masih kuatnya ego lembaga dan organisasi dalam setiap peringatan. Masing-masing kelompok datang membawa bendera dan identitasnya sendiri.

Padahal, kata Irpan, Randi dan Yusuf bukan milik satu organisasi, satu fakultas, satu kelompok, atau satu generasi mahasiswa tertentu. Ia mempertanyakan kapan semua pihak bisa membawa satu bendera yang sama, yakni bendera kemanusiaan.

"Kalau semua masih membawa bendera masing-masing, kapan kita membawa satu bendera yang sama? Bendera kemanusiaan," tulisnya.

Monumen yang Tak Kunjung Berdiri

Satu hal sederhana yang dinilai bisa dilakukan adalah membangun monumen peringatan. Bukan karena batu dan semen bisa menyelesaikan persoalan, melainkan karena monumen menjadi penanda bahwa kota ini pernah mengalami sebuah tragedi.

Monumen tidak akan mengembalikan Randi maupun menghidupkan Yusuf. Namun ia bisa menjadi penanda bahwa ada dua mahasiswa yang kehilangan nyawa, dan ada sejarah yang tidak boleh dihapus begitu saja.

Hingga tahun ketujuh, monumen itu belum kunjung berdiri. Yang ada baru acara, spanduk, diskusi, dan foto bersama. Padahal spanduk hanya bertahan beberapa hari, sementara monumen bisa bertahan puluhan tahun.

Apa yang Harus Berubah Setelah Tujuh Tahun

Irpan menilai sudah waktunya cara memperingati Randi-Yusuf diubah. Tidak perlu semakin ramai atau menambah panggung, tetapi justru semakin substantif.

Ia mengusulkan adanya ruang bersama untuk membuka kembali dokumen, fakta, proses hukum, dan seluruh informasi terkait peristiwa September 2019. Perlu pula keberanian bertanya kembali, serta kesediaan semua pihak duduk dalam satu meja tanpa bendera, tanpa klaim, dan tanpa ego organisasi.

Ketika dua mahasiswa telah kehilangan nyawa, persoalannya sudah lebih besar daripada kepentingan lembaga mana pun. Tujuh tahun seharusnya menjadi momentum berhenti sejenak, bukan sekadar bertanya di mana acara tahun ini digelar.

Pertanyaan yang lebih mendasar: apa yang sudah berubah setelah tujuh tahun? Apakah keluarga sudah mendapat jawaban yang mereka cari? Apakah mahasiswa hari ini memahami apa yang terjadi pada September 2019?

"Sebab peringatan yang hanya menghasilkan peringatan baru, pada akhirnya memang berisiko menjadi seremonial belaka," tulis Irpan.

Randi dan Yusuf, menurutnya, tidak membutuhkan seremoni yang lebih besar. Mereka membutuhkan sejarah yang tidak dilupakan, keluarga mereka membutuhkan jawaban, dan kota ini membutuhkan keberanian untuk terus mengingat sampai persoalan yang belum selesai benar-benar mendapat titik terang.

Reporter: Naufal Aditama
Sumber: kendarikini.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top